Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hadapi APEC, Industri Sawit Mulai Menggeliat

Iwan Supriyatna , Jurnalis-Senin, 26 Agustus 2013 |10:22 WIB
Hadapi APEC, Industri Sawit Mulai Menggeliat
Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi (Foto: Doc Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Kementerian Perdagangan menilai perkebunan kelapa sawit di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami kemajuan pesat. Salah satu indikatornya terlihat sejak 2006, kala Indonesia berhasil mengungguli Malaysia sebagai produsen Crude Palm Oil (CPO).

CPO yang merupakan produk industri perkebunan kelapa sawit mengantarkan Indonesia menjadi pemimpin pasar CPO di dunia. CPO menjadi salah satu produk strategis Indonesia dalam kancah perdagangan internasional.

"Kita sudah berhasil mengagendakan isu produk kelapa sawit di APEC Oktober 2013 ini," ujar Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi dari keterangan tertulisnya, Senin, Jakarta (26/8/2013).

Menurut Bayu, perkembangan industri sawit meningkat sejalan dengan permintaan minyak nabati dunia, yang sangat dibutuhkan bagi industri makanan, makanan olahan, komplemen produk kesehatan, sanitasi, produk kecantikan, bahkan potensial untuk dikembangkan menjadi energi terbarukan di masa depan.

Hal ini menjadikan sawit sebagai primadona di dalam industri minyak nabati, dikarenakan produktivitas lahan sawit yang jauh lebih unggul dibandingkan penghasil minyak nabati lainnya.

Selain itu industri kelapa sawit juga membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 4,9 juta warga Indonesia yang merupakan pekerja lapangan di industri sawit, angka tersebut belum termasuk jumlah pekerja di level manajemen. Luas lahan yang telah mencapai 8,9 juta hektar di tahun 2012 turut mendukung usaha pemberdayaan masyarakat. Sebanyak 1,75 juta kepala keluarga petani plasma hidup dan turut merasakan manfaat dari sektor kelapa sawit Indonesia.

Data Kementerian Perdagangan Republik Indonesia 2012, menunjukkan bahwa industri kelapa sawit adalah penyumbang devisa kedua terbesar setelah sektor minyak dan gas. Devisa negara yang dihasilkan adalah sebesar USD21 miliar atau sekitar Rp205 triliun. Penghasilan devisa tersebut setara dengan 13,7 persen dari ekspor non-migas Indonesia, yang besarnya mencapai USD153 miliar.

Di tengah berbagai peran penting industri kelapa sawit bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, berbagai tantangan, baik dari domestik maupun tata perdagangan global terus bermunculan. Isu-isu lingkungan seperti deforestasi, pembukaan lahan gambut, yang menimbulkan emisi gas rumah kaca (green house gas) tinggi, dan metode pembukaan lahan melalui pembakaran hutan menjadi tantangan bagi industri kelapa sawit. (wan)

(Widi Agustian)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement