Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

52% Pendapatan Garuda Berasal dari Penerbangan Internasional

Antara , Jurnalis-Minggu, 28 Mei 2017 |11:44 WIB
52% Pendapatan Garuda Berasal dari Penerbangan Internasional
Ilustrasi: (Foto: Antara)
A
A
A

JAKARTA - Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Pahala N. Mansury mengatakan, penerbangan rute internasional memberikan kontribusi sekitar 52% untuk pendapatan perseroan keseluruhan pada dua bulan terakhir.


"Angkanya tidak bisa kami sampaikan, tapi kurang lebih pendapatan kita dari penerbangan rute internasional sekitar 52% dari seluruh pendapatan. Jadi bisa dilihat itu perkembangan yang bagus," kata Pahala di Jakarta.

Pahala menjelaskan, kinerja maskapai penerbangan milik negara tersebut dari sisi profitabilitas atau keuntungan serta peningkatan penumpang menunjukkan perbaikan yang signifikan, yakni dengan pertumbuhan pendapatan rute internasional sebesar 13% (year on year).

Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dari pendapatan rute domestik yang hanya meningkat 3% (yoy). Ia menjelaskan, penambahan jumlah rute menjadi alasan penerbangan internasional menyumbang pendapatan terbesar. Saat ini Garuda memiliki 21 destinasi internasional dengan jumlah penumpang yang terus terjaga.

Dengan dibukanya destinasi baru Denpasar-Chengdu (Tiongkok) pada 23 Mei lalu, Pahala berharap Garuda Indonesia bisa menangkap tambahan penumpang dengan posisi Indonesia sebagai destinasi hub penerbangan.

"Indonesia sebagai hub dari China karena jumlah penumpang yang terbang ke Australia juga signifikan, mudah-mudahan bisa menangkap tambahan penumpang dari Australia," ujarnya.

Ia berharap hasil kinerja operating result pada semester II-2017 sudah menunjukkan ada keuntungan.

Sebelumnya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk membukukan rugi bersih atau rugi yang diatribusikan ke entitas induk sebesar USD98,5 juta pada triwulan pertama 2017 atau sekitar Rp1,31 triliun. Namun, rugi periode berjalan adalah sebesar USD99,1 juta.

Dibandingkan kuartal I tahun lalu, perseroan masih mencetak laba bersih atau laba yang diatribusikan ke entitas induk sebesar USD1,02 juta, sedangkan laba periode berjalan adalah sebesar USD800 ribu.

Kenaikan harga bahan bakar avtur menjadi penyebab kerugian tersebut. Dalam setahun terakhir, biaya bahan bakar naik 54% dari USD189,8 juta menjadi USD292,3 juta.

(kmj)

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement