Horbart, ibu kota negara bagian Tasmania, di lepas pantai Benua Australia, merupakan kota yang indah. Kota di kaki Gunung Wellington itu menjorok ke laut luas yang bahkan berujung di Kutub Selatan.
Kota turis tersebut dihuni sekitar 100.000 penduduk, termasuk mahasiswa yang cukup banyak di University of Tasmania. Hobart memiliki mal yang merupakan gabungan toko yang lumayan besar di mana sepanjang jalur pejalan kaki (promenade) banyak terdapat kedai untuk makan maupun minum.
Salah satunya adalah Starbucks, kedai kopi yang kita tahu berpusat di Seattle,Amerika Serikat. Starbucks yang berada di pojok jalan Collins Street adalah satusatunya yang dimiliki kota tersebut. Sayangnya, sejak pertengahan 2008, kedai kopi itu ditutup oleh pemiliknya. Langkah tersebut sejalan dengan penutupan 60 kedai Starbucks di seluruh Australia dan merupakan bagian dari penutupan 600 kedai di seluruh dunia.
Pada kunjungan saya ke kota tersebut Mei 2008 lalu, saya masih sempat merasakan nikmatnya Java Chips dan suasana kedai yang cukup ramai.Namun pada kunjungan saya yang kedua di bulan Agustus, kedai kopi tersebut ternyata sudah ditutup. Kondisi kontras terjadi di Jakarta.
Di kota yang memiliki banyak shopping mall ini, Starbucks berkembang pesat. Bahkan di seluruh Indonesia, pada 2008 ini barangkali sudah terdapat 80-an kedai kopi tersebut dan jumlahnya senantiasa bertambah 15-20 kedai setiap tahunnya. Bayangkan, negara yang memiliki pendapatan per kepala hanya seperdua puluh dari Australia itu ternyata justru memiliki penduduk yang mampu menghidupi kedai semacam itu.
Rasanya untuk melihat tanda-tanda zaman hanya dengan mengamati contoh tersebut tentu merupakan penyederhanaan berlebihan. Namun, menihilkan sama sekali perkembangan semacam itu juga tidak memberikan keuntungan apa pun. Paling tidak, perkembangan tersebut merupakan indikator yang dilihat oleh banyak pengusaha kita mengenai arah bisnis mereka ke depan.
Kelas Menengah Membesar
Boleh saja media Indonesia dipenuhi berita mengenai krisis. Namun, fakta di lapangan tetap saja menunjukkan perkembangan kelas menengah yang terus meningkat. Inilah yang akhirnya dibidik dengan baik oleh perusahaan seperti Mitra Adi Perkasa yang melihat peluang menjanjikan tersebut.
Bayangkan,jika jumlah kelas menengah Indonesia sebesar 30 juta lebih dan bertambah dengan sejuta orang setahunnya, kelas ini jelas menjanjikan prospek bisnis yang besar. Jumlah penduduk kelas menengah Indonesia tersebut lebih besar dibandingkan seluruh penduduk Australia, bahkan juga lebih besar dari seluruh penduduk Malaysia.
Di Indonesia, Starbucks dibuntuti oleh Coffee Bean, Excelso, dan semacamnya. Masing-masing dari mereka memanfaatkan pasar yang terus berkembang dan bahkan menampung limpahan jika Starbucks kewalahan menerima pelanggan. Bahkan kita dapat mengamati munculnya kedai kopi yang beraroma lokal seperti Kafe Bengawan Solo yang dewasa ini telah berkembang mencapai sekitar 30 kedai.
Di lantai 3 Grand Indonesia, tepatnya di bagian belakang Alun-alun Indonesia, ada Warung Kopi yang menyajikan makan daerah seperti ongolongol, getuk, palubutung, bubur Menado dengan minuman wedang ronde, bajigur, dan sebagainya. Saya yang merupakan pelanggan setia kedai kopi tersebut mengamati berkembangnya suatu komunitas pelanggan.
PT Fastfood Indonesia, yang memiliki franchise Kentucky Fried Chicken, bahkan datang lebih awal dan dewasa ini memiliki sekitar 350 kedai di seluruh Indonesia. Meski awalnya bisnis mereka dikerubuti oleh kedai serupa seperti Texas Fried Chicken ataupun California Fried Chicken, tampaknya jaringan KFC tersebut berkembang tidak tertahankan.
Pasar mereka bahkan lebih luas dari kelas menengah karena jenis makanannya mampu beradaptasi dengan sebagian besar penduduk Indonesia. Pasar ini berkembang bersamaan dengan Pizza Hut yang juga terus menjamur di mana-mana. Bahkan jaringan restoran siap saji Indonesia juga berkembang cepat seperti Bakmi GM, Bakmi Gang Kelinci, Sate Khas Senayan, Solaria, dan masih banyak lagi.
Akhir-akhir ini Gado-gado Boplo juga menyusul di belakangnya dengan perkembangan yang cepat pula.Semua kedai tersebut tampaknya memiliki pasar sendiri-sendiri tetapi tetap berasal dari kalangan menengah ke bawah yang semakin berkemampuan untuk mengunjunginya. Pada akhirnya, kita melihat jiwa entrepreneur yang dimiliki pengusaha kita.
Bayangkan, restoran Solaria dalam waktu yang sangat singkat telah mencapai lebih dari 100 kedai di Indonesia. Yang menarik, pemilik salon Johnny Andrean telah pula melebarkan sayap ke bisnis makanan dimulai dengan Bread Talk yang pelanggannya selalu membuat antrean panjang. Dewasa ini jiwa entrepreneur pengusaha ini mampu mengembangkan jaringan baru kedai donat dengan brand name J Co.
Peluang Bisnis
Berdasarkan berbagai cerita tersebut, kita membayangkan besarnya pasar di segmen ini yang tampaknya terus berkembang meski dunia sedang mengalami krisis. Pengusaha sepatu dari Bandung, Edward Forrer, misalnya mampu menerobos pasar kelas menengah dengan jaringan toko sepatu yang mencapai 50 buah, baik yang dimilikinya maupun yang dikembangkan dengan franchise, bahkan ke mancanegara.
Demikian juga industri pakaian jadi seperti baju merek Valino yang dimiliki Triputra Group yang dewasa ini memenuhi pasar kelas menengah dan bawah secara sukses. Dengan melihat tren tersebut, saya yakin akan banyak lagi pengusaha Indonesia yang mampu menembus pasar ini, baik dengan membawa merek lokal maupun mengembangkan sendiri brand name yang baru.
Mereka yang tekun dan serius memiliki kans lebih besar untuk berhasil. Besarnya peluang inilah yang mudahmudahan memberikan inspirasi ke mana arah perkembangan bisnis kita di masa depan. (*)
Cyrillus Harinowo
Rektor ABFII PerbanasÂ
(Rani Hardjanti)