Semenjak tahun 1911, tanaman kelapa sawit mulai dibudidayakan secara komersial di Sungai Liput (Aceh) dan Pulau Radja (Asahan). Setelah Indonesia merdeka, perkebunan kelapa sawit menjadi sektor usaha berbasis sumber daya alam yang kian diminati karena memberikan keuntungan besar bagi pengusaha dan negara.
Dibandingkan sektor agribisnis lain, perkebunan kelapa sawit memiliki banyak keunggulan dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan. Tak dapat dipungkiri, peranan industri kelapa sawit sangatlah besar dalam menunjang gerak pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Hal ini terbukti dari pengakuan pemerintah yang tetap mengandalkan CPO sebagai komoditi ekspor nonmigas.
Pada 2009, total volume ekspor produk kelapa sawit Indonesia mencapai 15,5 juta ton dengan nilai ekspornya sebesar USD9,1 miliar. Selanjutnya, penerimaan negara dari bea keluar CPO berjumlah Rp 13 triliun pada 2009. Pada 2010 ini, Kementerian Pertanian menargetkan pendapatan bea keluar mencapai Rp 18 triliun.
Industri kelapa sawit merupakan industri projob dengan kemampuan menyerap 3,5 juta tenaga kerja. Jika satu tenaga kerja memiliki tiga anggota keluarga berarti industri kelapa sawit mampu menghidupi 10 juta rakyat Indonesia.
Tentu saja, jumlah tenaga kerja di industri kelapa sawit akan terus bertambah seiring dengan peningkatan luas lahan kelapa sawit di Indonesia dan terciptanya industri hilir sawit (biodiesel dan oleokimia).
Sesuai dengan peraturan pemerintah, perusahaan kelapa sawit juga membantu pengentasan kemiskinan di Indonesia lewat penyediaan lahan untuk petani plasma. Dengan lahan seluas dua hektare (Ha), rata�rata petani plasma memiliki penghasilan bersih sebanyak Rp2 juta�Rp4 juta per bulan.
Sampai saat ini, luas lahan petani plasma di Indonesia diperkirakan melebihi 600 ribu Ha. Kebijakan inti�plasma ini menunjukkan komitmen perusahaan perkebunan kelapa sawit Indonesia untuk memberdayakan masyarakat melalui transfer teknologi budidaya sawit dan membangun kemandirian ekonomi.
Menembus kawasan pedalaman dan terpencil merupakan salah satu karakteristik perkebunan kelapa sawit. Kemampuan ini tentu saja sangat membantu pemerintah dalam menumbuhkan perekonomian daerah yang jauh dari kawasan perkotaan.
Keberadaan perkebunan kelapa sawit terbukti mampu merubah desa terpencil menjadi daerah setingkat kecamatan maupun kabupaten, contohnya Pasang Kayu (Sulawesi Barat).
Hal ini tidak terlepas dari adanya multiplier effect (efek pengganda) yang dimiliki industri kelapa sawit dalam menumbuhkan lini usaha lain seperti telekomunikasi dan jasa.
Banyaknya jumlah pekerja merupakan penyebab utama perkebunan kelapa sawit dapat menciptakan sekaligus menggerakkan sektor usaha yang dikelola masyarakat sekitar kebun.
Walaupun, isu negatif terus menerpa pelaku industri kelapa sawit namun bukan berarti memadamkan semangat untuk memajukan negeri ini.
Untuk itu, pelaku kelapa sawit tetap berkomitmen mengembangkan perkebunan kelapa sawit yang ramah lingkungan dan berkelanjutan demi menggerakkkan roda perekonomian lokal maupun nasional, serta membuka lapangan kerja seluas�luasnya kepada masyarakat.
Direktur Eksekutif Gapki
Fadhil Hasan