JAKARTA - Depresiasi rupiah guna mendukung ekspor boleh-boleh saja dilakukan. Masalahnya, sampai saat ini devisa ekspor tidak dinikmati Indonesia.
"Saat ini kita paling kompetitif, kita paling terdepresiasi, tapi kita tidak menikmati hasil dari depresiasi ekspor itu sendiri," ungkap Pengamat Ekonomi Farial Anwar, di Jakarta, kemarin.
Farial sendiri setuju jika rupiah terdepresiasi untuk mendukung ekspor, namun semua itu tetap ada syaratnya. "Kalau memang depresiasi rupiah digunakan untuk ekspor, saya dukung, asal devisa ekspor wajib masuk ke dalam negeri. Sekarang kan devisa ekspor malah ke luar negeri," paparnya.
Menurutnya dengan rezim devisa bebas ini maka hanya eksportir yang diuntungkan jika ada depresiasi rupiah. "Dengan rezim devisa bebas yang untung ekportir, tapi yang kena dampaknya masyarakat," tambahnya.
Dia menilai peredaran uang dari Indonesia paling banyak masuk ke Singapura. "Banyak yang masuk ke luar negeri seperti Singapura yang menjadi surga bagi pelarian uang dari Indonesia, para koruptor di Indonesia banyak yang menghabiskan uang di sana, makanya Singapura enggak mau menandatangani perjanjian ekstradisi," imbuhnya.
Menurutnya saat ini pemerintah harus membuat peraturan yang mengharuskan devisa ekspor masuk ke Indonesia, agar tidak ada lagi dana yang terbuang percuma. "Jangan biarkan dananya gentayangan di negara lain," pungkasnya.