Angka Inflasi 2012 Tidak Realistis

Wisnoe Moerti, Jurnalis
Kamis 26 Mei 2011 14:48 WIB
Ilustrasi: Grafik
Share :

JAKARTA - Pengamat ekonomi Standar Chartered Eric Sugandi menilai inflasi yang dipatok pada level 3,5-5,5 persen tidak realistis, terutama jika dikaitkan dengan kondisi perekonomian global yang maish dihantui belum stabilnya harga minyak dan pangan.

“Tahun 2012, kami lebih konservatif dibandingkan pemeirntah. Inflasi mungkin bisa lebih tinggi, atau sekitar 6,6 persen,” ungkap Eric di Jakarta, Kamis (26/5/2011).

Dia juga melihat kemungkinan tingginya tekanan inflasi yang terjadi sebagai dampak penerapan kebijakan pembatasan BBM bersubsidi. Eric mengatakan, persoalan pangan dan minyak, membuat ruang fiskal semakin menyempit. Padahal, ruang fiskal dibutuhkan untuk membantu mengendalikan tekanan inflasi.

Menurutnya, gejolak harga minyak masih menghantui anggaran negara. Dia melihat, kepercayaan diri pemerintah yang cukup tinggi menahan tekanan inflasi pada level 3,5-5,5 persen lebih didorong berhasilnya produksi pangan dalam negeri yang bisa dihunakan untuk menjaga stabilitas harga. Kalaupun target tersebut tercapai, kata dia, tentunya di batas atas dari target tersebut atau pada level 5,5 persen. “Pemerintah tentu punya pertimbangan sendiri,” tegasnya.

Sekadar diketahui, pemerintah menetapkan asumsi makro RAPBN 2012 sudah berdasarkan kondisi perekonomian global dan dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi ditarget mencapai 6,5-6,9 persen, inflasi pada level 3,5-5,5 persen, nilai tukar Rupiah pada kisaran Rp9.000-9.300 per dolar AS, suku bunga SBN tiga bulan pada kisaran 5,5-7,5 persen, ICP pada kisaran USD75-95 per barel, dan lifting minyak sebesar 950.000-970.000 barel per hari.

(Widi Agustian)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya