JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di penghujung level Rp8.900 per USD. Stagnasi ini, antara lain karena kekhawatiran akan krisis utang Eropa yang belum menemukan titik terang.
Menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI) rupiah diperdagangkan di kisaran Rp8.998 per USD dengan range perdagangan Rp8.953-Rp9.043 per USD. Sementara mengutip yahoofinance, rupiah diperdagangkan di Rp8.992 per USD dengan range perdagangan Rp8.972-Rp8.992 per USD.
Analis valuta asing Rahadyo Anggoro mengungkapkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih aman di level Rp8.900 per USD. Kondisi dalam negeri saat ini, menurutnya, yang berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar adalah pengumuman Gross Domestic Bruto (GDP) yang diprediksi 6,39 persen dibanding sebelumnya 6,5 persen.
Menurutnya, peluang rupiah menguat masih terbuka dari lelang Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor 10, 20, dan 30 tahun. Lelang yang diadakan pekan ini ditargetkan perolehan dana mencapai Rp8 triliun. "Jika lelang ini banyak investor yang tertarik rupiah bisa menguat," ungkapnya kepada okezone di Jakarta, Selasa (7/2/2012).
Sementara analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengungkapkan pasar Asia kemungkinan akan terkoreksi mengikuti pelemahan pasar AS dan Eropa pada perdagangan kemarin.
"Investor mengkawatirkan gagalnya kesepakatan antara Yunani dengan krediturnya. Hal tersebut membuat dolar AS menguat, sebaliknya rupiah berpotensi melemah," kata dia. (mrt)
(Rani Hardjanti)