Proyek Tol Cisumdawu Terganjal Pembebasan Lahan

Widi Agustian, Jurnalis
Jum'at 12 September 2014 09:41 WIB
Proyek Tol Cisumdawu Terganjal Pembebasan Lahan. (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Progress proyek jalan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) di Jawa Barat sangat minim. Pasalnya, pembangunan tol sepanjang 60,11 kilometer (km) ini terganjal masalah pembebasan lahan.

Padahal UU terkait pembebasan lahan untuk kepentingan umum sudah jelas. Namun sulit untuk direalisasikan. Seksi II lebih diprioritaskan untuk dikerjakan saat ini. Pasalnya, bila seksi II ini rampung dikerjakan nantinya akan menyambung dengan jalan nasional menuju akses bandara internasional Kertajati di Majalengka. Di sisi lain, Seksi II juga diharapkan mampu mendukung pengembangan pembangunan di Cirebon dan Indramayu.

"Seksi II memang lebih diprioritaskan. Karena bermanfaat sebagai penghubung akses ke Bandara. Kami perkirakan penanganan seksi II ini akan menelan dana terbesar dibanding untuk lima seksi lainnya,” ungkap Kepala Balai Pembangunan Jalan Nasional Wilayah IV Kementerian Pekerjaan Umum Bambang Hartadi, dilansir dari laman Kementerian PU, Jumat (12/9/2014).

Ditegaskan, Seksi II meliputi Rancakalong-Sumedang (17,350 km). Target semula jika lahannya selesai Mei lalu, maka konstruksinya selesai Juli 2015. Kenyataan, hingga kini masih terdapat lahan selas 2,972 ha yang belum bebas. Adanya kendala ini sehingga harus dilakukan proses persetujuan perpanjangan waktu.  Lahan seluas itu meliputi tujuh Desa (Citali, Pamulihan, Cigendel, Sukasirnarasa, Pasir Biru, Pamakaran dan Ciherang). Target awal sebelumnya masalah lahan selesai April lalu. Kenyataannya hingga saat ini masih dalam proses penuntasan.

Saat ini tengah diupayakan  usulan perpanjangan waktu pekerjaan dan penambahan biaya. Alokasi dana kurang lebih sebesar Rp100 miliar dirasakan belum memadai. Untuk sedang diupayakan usulan penambahan loan sekitar Rp 346 miliar yang diperkirakan waktu 2-3 bulan termasuk proses revisi DIPA di Kementerian Keuangan.

“Sudah pasti hal ini akan mempengaruhi cash flow kontraktor dan berimbas pada penyelesaian pelaksanaan pekerjaan,” tambah Bambang Hartadi.

Menurut Satker Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan Cisumdawu, Subagus Dwi Nurjaya kondisi hingga kini tercatat masih dalam proses penyesuaian penyelesaian Review Desain DED. Sementara proses lelang sudah berjalan. Untuk merampungkan Seksi II ini dibutuhkan lahan 239 ha. Sedangkan yang sudah terbebas baru 48,5 persen. Sehingga pembesan lahan masih akan berlanjut.

“Dampak berlarut-larutnya proses pembayaran ganti rugi ditengarai menjadi penyebab tambahan waktu pelaksanaan konstruksi hingga 10 bulan ke depan," tutur Subagus.

Dijelaskan, proses lelang yang kini mulai berjalan diperkirakan akan berlangsung hingga tahun 2015. Nilai lelang sekitar Rp2,75 triliun (termasuk PPN) masih untuk pekerjaan Seksi II. Pekerjaan fisiknya hanya membutuhkan Rp2,5 triliun. Dana sebesar ini nantinya akan digunakan untuk pekerjaan pekerjaan phase II yakni pembuatan jalan, jembatan dan terowongan.  Subagus menambakan, hingga saat ini proyek Tol cisumdawu telah menghabiskan dana sekitar Rp 500 miliar. Dan total yang dibutuhkan untuk merampungkan proyek jalan bebas hambatan ini diperkirakan angkanya mencapai Rp7,5 triliun.

“Sumber pendanaan dari pinjaman China. Sedangakan dana APBN hanya sekitar 10 persen.  Itu pun hanya sebagai uang muka saja. Penyelesaian proyek ini dimungkinkan sangat tergantung situasi pembiayaan. Tapi kalau kita jadwalkan butuh waktu sekitar 11 tahun lagi,” tegas Kasatker Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan Cisumdawu.

Tol Cisumdawu dikerjakan dalam enam seksi. Sesi I Cileunyi-Rancakalong (12,025 km), Seksi II Racakalong-Sumedang (17,350 km). Seksi III Sumedang-Cimalaka (3,750 km), Seksi IV Cimalaka-Legok (7,200 km) dan Seksi V Legok-Ujung Jaya (15,900 km) dan Seksi VI Ujung Jaya-Dawuan (4,048 km). Untuk merampungkan Seksi II ini dibutuhkan waktu tiga tahun, paling lama dibanding seksi lain.

Proyek ini mulai dikerjakan pada akhir tahun 2012, yakni fase satu. Dan dijadwalkan November tahun ini selesai. Namun mengingat masih adanya proses pembebasan lahan yang belum rampung, maka terpaksa penyelesaiannya waktunya ditambah 10 bulan ke depan.  Nilai kontrak awal Rp1 triliun lebih. Proyek ini digarap oleh Shanghai Construction Group Co Ltd Cosnsortium of  Wika-Waskita JO.

(Widi Agustian)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya