"Ini hal yang menarik. Harga produksi BBM dari semua kilang yang ada di Indonesia dari yang paling tua di Plaju dan paling muda di Sorong lebih mahal daripada harga kalau BBM di import," ungkap anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Agung Wicaksono di gedung Kementerian ESDM di Jakarta, Rabu (17/12/2014).
Agung menyebut, melihat kondisi ini timbul wacana yang menyarankan agar semua kilang yang ada di Indonesia ditutup saja, karena mahalnya ongkos produksi ini. Namun, menurut Agung hal tersebut tidak bisa dilakukan karena akan berhubungan dengan ketahanan energi nasional.
"Ini bukan soal hitung-hitungan harga. Ini juga soal ketahanan energi. Supaya kalau tiba-tiba harga dunia naik tajam kita kemudian tidak punya suplai, maka kilang kita harus dibenahi. Itu salah satu langkah yang harus dilakukan," jelasnya.
Hal tersebut juga diperkuat oleh Ketua Tim Komite Faisal Basri. Menurutnya, biaya produksi BBM di kilang minyak Pertamina lebih mahal daripada impor.
"Bahkan di atas MOPS (Mean of Plats Singapore), bisa 110-112 persen atau lebih mahal 10 persen dari harga impor BBM," ujar dia.
(Rizkie Fauzian)