BANDA ACEH – Usaha pijat refleksi modern yang bertabur di Kota Banda Aceh, memberi dampak buruk bagi keberlangsungan panti pijat tuna netra. Banyak panti pijat tradisional tuna netra kini bangkrut, dan sebagian pekerjanya mulai beralih jadi pengemis.
Salah satunya Irham Akbar (34). Lelaki ini sejak dua tahun terakhir sering mengemis dari satu pintu toko ke toko lain atau sesekali di lampu merah, mengharap belas kasihan pengendara.
“Kami sebenarnya tidak mau jadi pengemis, tapi apa boleh buat kita butuh makan. Aceh punya pemerintah tapi seperti tidak ada yang peduli, uang cukup banyak di Aceh tapi entah ke mana dibawa,” keluh Irham saat berbincang dengan Okezone, Jumat (13/2/2015).
Irham awalnya merupakan pekerja panti pijat tuna netra di Peunayong. Dengan menjual jasa, ia mampu menghidupi dirinya sendiri dari tubuh-tubuh yang dipijatnya. Tapi itu dulu, sebelum menjamurnya pijat refleksi.