“Selama ada pijat refleksi enggak ada lagi pasien kami. Sehari paling cuma ada satu pasien yang minta pijat,” ujar Irham yang sudah sejak lahir menyandang tuna netra.
Agar kebutuhan hidupnya bisa terpenuhi, Irham memberanikan diri jadi pengemis. Beberapa teman seprofesinya juga memilih jalan serupa. “Sebenarnya saya juga tidak mau seperti ini, tapi harus gimana.”
Ketua Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI) Aceh, Burhanuddin mengatakan, di Banda Aceh ada belasan panti pijat tuna netra. Sekarang terancam gulung tikar karena kalah saing dengan banyaknya pijat refleksi modern.
Tukang pijat yang semuanya penyandang tuna netra, lanjut dia, sekarang mulai kehilangan pekerjaan dan beralih jadi pengemis. “Ada 50 persen mereka yang sudah jadi pengemis sekarang,” ujar Burhanuddin yang juga seorang tuna netra.
Burhanuddin memiliki satu panti pijat dengan pekerjanya para tuna netra. Dulu panti itu rata-rata melayani 30-40 pasien pijat sehari. Sejak 2010 seiring banyaknya pijat refleksi, jumlah pelanggan turun drastis. “Sekarang sehari kadang tidak sampai 10 orang,” tuturnya.