JAKARTA - Indonesia saat ini tengah bersiap untuk menghadapi era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA). Pada tahun ini, negara-negara di ASEAN sepakat untuk membuka 8 sektor untuk dibuka dalam pasar bebas ASEAN, yaitu pada bidang pengobatan atau dokter, perawat, arsitektur, tenaga ahli, dokter gigi, akuntan, tenaga survei, dan pariwisata.
Namun, diantara 114 juta tenaga kerja di Indonesia, jumlah tenaga kerja yang bekerja pada 8 sektor ini hanya berjumlah 3 juta tenaga kerja. Menurut Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Tenaga Kerja Khairul Anwar, hal ini salah satunya disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia.
"Dari 114 juta yang bekerja dalam 8 profesi, yang terbuka bagi ASEAN hanya 3 juta tenaga kerja," jelasnya di Gedung UGM, Jakarta, Sabtu (27/2/2016).
Untuk itu, lanjutnya, saat ini pemerintah akan memberikan pelatihan kepada tenaga kerja untuk meningkatkan kreatifitas dalam berbagai sektor. Pelatihan akan diberikan oleh pemerintah melalui lembaga pelatihan dan bekerjasama dengan swasta.
"Tidak mungkin diatas 18 tahun tidak punya keterampilan harus bersekolah dulu, formal dulu. Perlu pelatihan, produksi itu terakhir erat dengan produktivitas. Untuk itu perlu sertifikasi kompetensi," jelasnya.
Pelatihan ini nantinya diharapkan akan meningkatkan kreatifitas seluruh tenaga kerja di Indonesia. Selain itu, kebijakan ini nantinya diharapkan dapat mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia yang mayoritas merupakan lulusan SMP.
"Kalau dilihat dari 122 juta ada yang menganggur 7,5 juta. 68 persen hanya lulusan SMP ke bawah. Lulusan diploma dan sarjana hanya 9 persen," tegasnya.
(Fakhri Rezy)