JAKARTA - Properti dan infrastruktur menjadi salah satu sektor industri paling berkembang selain sektor strategis lainnya. Lembaga riset properti Jones Lang Lasalle memprediksi, sektor properti akan kembali tumbuh mulai tahun ini.
Kebutuhan akan ruang kantor, perumahan, dan pusat perbelanjaan yang saat ini melemah tahun depan akan secara bertahap kembali meningkat. Pengembang properti yang tergabung di dalam Real Estate Indonesia (REI) menargetkan pertumbuhan penjualan properti tahun ini mencapai 12 persen. “Kita dari REI tahun ini menargetkan pertumbuhan antara 10 sampai 12 persen,” ujar Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) REI Eddy Hussy.
Dalam kurun lima tahun terakhir, banyak dikembangkan perumahan-perumahan mewah dan hunian vertikal yang mendominasi wilayah kota-kota besar di Indonesia. Di samping itu, pertumbuhan properti komersial seperti perkantoran, kondotel, hotel dan mal tetap berkembang di beberapa lokasi yang premium. Gencarnya pembangunan di kawasan utama kota-kota besar di Indonesia membuat lahan yang ada semakin berkurang. Setiap jengkal tanah berubah menjadi bangunan perumahan maupun perkantoran.
Selain itu, masalah yang masih kerap dihadapi adalah tentang perencanaan tata ruang yang kurang tepat, infrastruktur kota yang belum memadai, pembiayaan dan perijinan yang masih menuai persoalan serta pembangunan rumah sederhana yang tertinggal dimana akan membuat potensi kerawanan. Sejumlah persoalan yang bakal dihadapi para pengembang properti di Indonesia pada masa mendatang yakni terbatasnya lahan.
Saat ini lahan di pusat kota semakin terbatas. Keterbatasan lahan untuk pengembangan properti mendorong developer melakukan reklamasi pantai menjadi daratan. Hal ini dinilai sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi keterbatasan lahan di beberapa kota besar. Khusus di Jakarta, pengembangan proyek di Jakarta Selatan sudah tidak mungkin lagi karena menjadi daerah resapan air dan penahan banjir sehingga perlu dikembangkan kawasan baru.