Sementara pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tri Widodo mengakui hal sama, potensi penggunaan RMB cukup besar diterapkan dalam perdagangan internasional di tanah air mengingat 60 persen transaksi Indonesia adalah ke China.
”Penggunaan mata uang RMB adalah sebuah terobosan, tapi ke depan perlu terbungkus dalam integrasi ekonomi di wilayah Asia dengan kesepakatan bersama negara-negara di Asia sehingga akan kuat,” katanya.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jatim Hadi Prasetyo mengatakan, diberlakukannya mata uang RMB sebagai mata uang perdagangan dunia akan mendorong pengusaha-pengusaha dari China agar lebih agresif berinvestasi di negara lain, khususnya di kawasan Asia Tenggara yang secara geografis dekat dengan Negeri Tirai Bambu tersebut.
Agresifnya investasi dari negeri yang dipimpin Xi Jinping itu karena ekspor mereka menurun. Karena itu, mereka akan memilih berinvestasi secara langsung di negara-negara lain.
”Nah, Jatim juga akan menjadi salah satu daerah sasaran investasi dari China,” katanya.
(Dani Jumadil Akhir)