Kinerja Sektor Konstruksi Melambat

Koran SINDO, Jurnalis
Jum'at 09 September 2016 11:29 WIB
Ilustrasi: (Foto: Okezone)
Share :

SURABAYA – Selama triwulan II/2016, kinerja sektor konstruksi mengalami perlambatan menjadi 5,2 persen dibanding triwulan sebelumnya, 5,6 persen. Perlambatan tersebut tercermin dari lambatnya pertumbuhan penjualan semen, impor material konstruksi, serta indeks riil penjualan eceran untuk material konstruksi.

Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Jawa Timur (Jatim) menunjukkan, pertumbuhan konsumsi semen pada triwulan II sebesar 7,8 persen, turun dibanding triwulan sebelumnya 9,9 persen. Impor besi dan baja juga masih rendah, yakni -13,16 persen di triwulan II. Lebih lanjut, indeks riil penjualan eceran untuk material konstruksi juga melambat, antara lainuntukpenjualaneceranlogam dari 16,40 persen menjadi -20,49 persen.

Penjualan kayu dari -13,26 persen menjadi-21,95 persen), sertapenjualan perlengkapan konstruksi dari 13,32 persen menjadi 8,01 persen. “Perlambatan kinerja sektor konstruksi pada triwulan ini ditengarai didorong perlambatan kinerja investasi bangunan, khususnya di sektor swasta. Perlambatan investasi juga tercermin dari penurunan jumlah proyek PMDN (penanaman modal dalam negeri), dari 116 proyek di triwulan sebelumnya menjadi 106 proyek di triwulan ini,” ujar Kepala KPBI Jatim Benny Siswanto.

Menurut dia, salah satu kendala pembangunan sektor konstruksi, antara lain pembebasan lahan untuk jalan bebas hambatan. Terdapat total 519 kilometer (km) ruas jalan yang rencananya dijadikan jalan bebas hambatan, di mana sebagian besar masih terhambat masalah pembebasan lahan. Penyelesaian pembangunan jalan tol Surabaya-Mojokerto (Sumo). Lalu pembebasan lahan di Karangpilang, Sumur Welud, dan Waru Gunung.

Ketiganya ada di Surabaya. Meski begitu, sektor konstruksi ke depan diperkirakan tumbuh karena didorong peningkatan kredit di sektor tersebut, yang tumbuh 1,8 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya 1,4 persen. “Pada triwulan III ini, kinerja sektor konstruksi diperkirakan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya dan ini didorong berlangsungnya proyek-proyek pembangunan pemerintah,” terangnya.

Beberapa proyek pemerintah yang tengah berlangsung, di antaranya, pembangunan Jembatan Bengawan Solo yang menghubungkan Kecamatan Kota- Trucuk oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, pembangunan kompleks wisata Boom Marina Banyuwangi, pembangunan Jembatan Suroboyo di kawasan Pantai Kenjeran, pengembangan landasan pacu Bandara Juanda Sidoarjo, serta masih berlangsungnya pembangunan jalan tol ruas Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono, Kertosono-Mojokerto, dan Mojokerto-Surabaya.

Peningkatan kinerja sektor konstruksipadatriwulaniniterindikasi oleh indeks kegiatan usaha dan penjualan eceran. Berdasarkan survei Kegiatan Dunia Usaha KPBI Jatim, indeks kegiatan usahadisektortersebutdiperkirakan meningkat. Di antaranya, pertumbuhan penjualan eceran semen diperkirakan membaik, dari -21,06 persen pada triwulan II/2016menjadi-16,96 persen padatriwulan III.

“Demikian juga dengan penjualan kayu dari -21,99 persen menjadi -21,88 persen pada triwulan III/2016,” pungkas Benny. Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Jatim Hadi Prasetyo mengatakan, sektor konstruksi masih tetap potensial tahun ini dan beberapa tahun ke depan.

Produk domestik regional bruto (PDRB) di Jatim mencapai Rp1.649 triliun saat ini. Dari jumlah itu, sekitar 9,4 persen atau sekitar Rp150 triliun berasal dari sektor jasa konstruksi. Tahun ini pertumbuhannya bisa mencapai Rp200 triliun. Menurutnya, ada sejumlah pemicu dari meningkatnya sektor jasa konstruksi. Di antaranya, Jatim sudah menjadi sasaran investasi luar negeri. Di Jatim saat ini sudah ada 71 investor dari Amerika Serikat (AS).

Belum lagi investor lain, seperti dari Tiongkok, Jepang, Singapura, dan Korea. “Banyaknya negara yang berinvestasi di Jatim tak lepas dari kemudahan perizinan dan ditopang dengan keamanan daerah,” katanya.

(Fakhri Rezy)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya