Untuk itu, pemerintah harus berupaya menutup semua kebocoran ekspor. ”Selain itu, pengusaha harus memperlihatkan responsible tin mining . Saya rasa semua stakeholder di timah ini mesti kompak,” katanya. Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Bachrul Chairi mengatakan, ekspor timah nasional mengalami penurunan dari 39.000 metrik ton pada semester I/2015 menjadi hanya 29.000 metrik ton pada periode yang sama tahun ini.
”2016 ini karena ada kehadiran pemain baru, Myanmar, mereka baru masuk. Ini salah satu faktornya yaitu sumber baru,” ujarnya. CEO Indonesian Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Megain Widjaja mengatakan, target ekspor 2016 kurang lebih sama dengan tahun lalu sebesar 68.000 metrik ton.
”Tantangan ekspor di tahun depan adalah bersaing di pasar global. Makanya, disinggung produk turunan atau derivatif dari timah. Tujuannya, untuk bagaimana pelaku pasar Indonesia dapat melakukan lindung nilai dari timahnya,” ujarnya. Demi mendukung lindung nilai dari timah maka, dibutuhkan Pusat Logistik Berikat (PLB).
Pembangunan PLB juga bertujuan agar barang impor yang biasanya disimpan terlebih dahulu di Singapura dan Malaysia bisa dipindahkan ke Tanah Air. ”Jadi, bisa lebih efisien dan cash flow-nya tidak memberatkan perusahaan. Paling lambat bulan depan diluncurkan,” katanya.
(Raisa Adila)