“Yang akan kami pilih adalah mitra yang bisa mengangkat nilai dan citra GMF. Investasinya juga masih kami hitung. Namun, dengan Otorita Batam sudah ada perjanjian. Masalah-masalah teknis dan sebagainya masih terus kami bicarakan,” ungkapnya.
Iwan memastikan, apa yang dilakukan GMF di Batam, berdasarkan besarnya potensi pasar perawatan pesawat. Menurut dia, di pasar global, pasar MRO masih terbuka lebar sehingga GMF harus menjadi pemain utama di negeri sendiri. Selain GMF, di Batam sebelumnya sudah beroperasi MRO yang dikelola oleh Lion Air Group.
Kehadiran pemain lain di bisnis MRO, ujar Iwan, tidak akan menjadi masalah bagi perseroan karena Lion memiliki pasar tersendiri. “Ini penghasil devisa. Adanya Lion di sana saya rasa tidak ada masalah karena pasarnya ada sendiri dari grupnya, sedangkan kami akan menarik pasar dari luar masuk ke Indonesia,” lanjut Iwan.
Dia menambahkan, GMF telah meneken perjanjian dan nota kesepahaman bersama pihak lain terkait rencana pembangunan fasilitas MRO di sejumlah tempat. Namun, GMF terus melakukan pematangan kajian, seperti di Australia yang saat ini ada dua kota yang tengah dipertimbangkan, yaitu Sydney dan Melbourne. “Di Uni Emirat Arab, kami berencana membangun fasilitas MRO di Kota Dubai,” ujarnya.
Iwan menambahkan, sebagian kebutuhan dana pembangunan keempat fasilitas MRO anyar bakal memanfaatkan dana yang diperoleh melalui initial public offering (IPO). Adapun rencana IPO akan dilakukan pada September tahun ini.