MALUKU - Memasuki usia kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia, fasilitas pendidikan masih belum merata. Tak hanya para siswa, guru yang menjadi jembatan pendidikan pun masih menemui banyak kendala dalam melakukan tugas pengajaran.
Jika di kota besar fasilitas pendidikan telah dapat dinikmati secara merata oleh guru dengan murid, beda halnya dengan daerah perbatasan. Bantuan dari pemerintah pun masih sangat diperlukan untuk menunjang kegiatan belajar dan mengajar.
Charles Enos Taluta, Kepala Sekolah SMK Perikanan dan Kelautan Ustutun, Pulau Liran, Kecamatan Wetar Barat, Maluku Barat Daya, Maluku, bercerita bahwa butuh perjuangan yang tak mudah bagi para guru di daerah ini untuk mengajar. Bahkan, kepala sekolah dan guru di sekolah ini harus tinggal di perpustakaan sekolah.
"Ibu guru menginap di lab (laboratorium sekolah). Saya menginap di perpustakaan. Saya sejak 2013 sudah beberapa kali pindah. Terakhir (tinggal) di balai dusun. Tapi karena jauh dari sekolah saya pindah ke sini (perpustakaan sekolah)," kata Charles saat ditemui di halaman sekolah, Selasa (8/7/2017).
Charles adalah warga pendatang di pulau ini. Ia pun rela meninggalkan keluarganya di Ambon untuk mengabdi di daerah yang berbatasan dengan Timor Leste ini.
Charles pun harus meninggalkan anaknya di Ambon karena kendala infrastruktur perumahan bagi para guru. Hanya sesekali ia menyempatkan kembali ke Ambon untuk bertemu dengan keluarganya.