JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatat rugi sebesar USD283,8 juta atau setara dengan Rp3,77 triliun sepanjang semester I-2017. Kerugian ini mengalami peningkatan sebesar 349% dibandingkan enam bulan pertama tahun lalu sebesar USD63,2 juta.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menjelaskan, untuk memperbaiki kinerja maskapai penerbangan tersebut, pihaknya tengah menginisiasi beberapa pembenahan dalam manajemen Garuda. Salah satunya, dengan meraih tambahan pendanaan di pasar modal melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) entitas anak, PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia pada Oktober 2017.
"Hal yang kita lakukan adalah GMF akan kita listing sebelum akhir tahun. Semoga itu bisa mendapatkan pendapatan lebih untuk Garuda. Itu yang kita dapat lakukan, semoga akhir tahun sudah jauh sedikit kerugiannya," ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (31/8/2017).
Selain mengandalkan IPO GMF, Garuda juga bakal melakukan efisiensi rute penerbangan. Kajian mengenai rute yang kurang potensial bagi pendapatan perseroan dalam proses pengkajian.
"Memang proses ada kerugian karena itu kita kan kita sedang menstrukturisasi rute rute, kita lihat kembali, kita analisa. Efisiensi dilakukan dan kita juga proses melisting," tambah dia.
Baca Juga: Siap 'Bermain' di Bursa Saham, GMF Sudah Lapor OJK
Sebelumnya, Direktur Utama GIAA Pahala Mansury menargetkan lewat IPO GMF, perseroan akan mendapatkan dana segar sebesar USD150 juta atau setara dengan sekira Rp1,9 triliun jika mengacu kurs Rp13.300 per USD.
Tambahan dana ini dapat dilakukan untuk pengembangan di tubuh GMF. Targetnya, kata Pahala, GMF dapat tumbuh hingga 20% pasca-IPO.
Dengan demikian, secara konsolidasian, kinerja keuangan akan ikut terkerek. Selain itu, perseroan juga akan mengandalkan pemasukan dari dana haji dan umrah.
(Martin Bagya Kertiyasa)