Thailand Bangun Jaringan Kereta Super Cepat, Nilai Kontraknya Rp2,09 Triliun

Koran SINDO, Jurnalis
Kamis 07 September 2017 14:22 WIB
Ilustrasi: Pattayamail
Share :

BANGKOK – Thailand menandatangani dua kontrak senilai USD157 juta (Rp2,09 triliun) dengan perusahaan milik pemerintahan China untuk membangun proyek kereta supercepat. Proses penandatanganan kesepakatan dan kontrak antarperusahaan milik Pemerintah China dan Pemerintah Thailand dilaksanakan pekan ini disaksikan langsung Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri (PM) Thailand Prayuth Chan-ocha.

Menurut Gubernur State Railway Thailand Anon Luengboriboon, kontrak pertama meliputi desain teknik proyek senilai 1,7 miliar bath. Proyek kedua melibatkan penasihat teknis asal China senilai 3,5 miliar baht. Nanti kereta super cepat itu bisa melaju dengan kecepatan 250 km per jam.

“Konstruksi tahap pertama proyek tersebut meliputi pembangunan jaringan rel sepanjang 250 km yang menghubungkan Ibu Kota Thailand, Bangkok, dan Provinsi Nakhon Ratchasima, akan dimulai pada Oktober mendatang,” ujar Anon kepada Reuters , kemarin. “Proyek itu diperkirakan akan selesai dan kereta super cepat akan beroperasi pada 2021,” katanya.

Baca juga: Segera! Jepang Minta Indonesia Putuskan Jalur Kereta Cepat Jakarta-Surabaya

Departemen Jalan Tol Thailand, ungkap Anon, akan membangun jaringan rel pertama sepanjang 3,5 km. Sisanya nanti akan ditenderkan secara terbuka kepada kontraktor Thailand. “Dengan penandatanganan dua kontrak itu secara resmi proyek kereta api supercepat Thailand-China akan dimulai,” ungkapnya.

Sebenarnya proyek supercepat itu telah disusun sejak 2014 silam. Namun, banyak kendala dan tantangan sehingga proyek itu banyak mengalami revisi dan penundaan. Faktor negosiasi dari masalah biaya dan jangka waktu pinjaman hingga hak pengembangan menjadi isu yang sulit dicapai kesepakatan.

Namun, pada Juli lalu, proyek tersebut disetujui oleh kabinet pemerintahan Thailand. Proyek kereta supercepat Bangkok-Nakhon Ratchasima merupakan bagian dari jaringan rel sepanjang 873 km yang menghubungkan Thailand dan Laos melalui Sungai Mekong.

Baca juga: Diklaim Kalahkan Pesawat, Pakai Kereta Cepat ke Surabaya Tak Sampai 5 Jam

Program itu merupakan bagian dari Inisiatif Sabu dan Jalan China yang bertujuan membangun “Jalur Sutra” menghubungkan ekonomi terbesar kedua dunia dengan Asia Tenggara, Pakistan, dan Asia Tengah. Selain jalur kereta, China juga ingin membangun “Jalur Sutra” untuk meningkatkan hubungan dagang dengan Timur Tengah dan China.

Proyek itu merupakan ambisi Presiden Xi Jinping bukan hanya untuk meningkatkan kerja sama perdagangan, tetapi dalam upaya menebar pengaruh ke berbagai penjuru dunia. Beberapa analis menganggap proyek tersebut mengandung nilai komersial dalam perspektif Thailand.

Dalam pandangan Joshua Kurlantzick, peneliti senior Asia Tenggara dari Council on Foreign Relations, pemerintahan junta Thailand menggunakan kesepakatan kontrak dengan China untuk memperkuat posisi geopolitik mereka.

“Saya pikir ada kepentingan sementara dari pihak Thailand untuk memperkuat jaringan strategi dengan Beijing. Itu bertepatan dengan pemerintahan junta militer yang dikritik negara-negara Barat,” ujar Kurlantzick dilansir Railway-Technology.

Baca juga: Bertemu Jokowi, Penasihat Khusus PM Jepang Bahas Pelabuhan Patimban hingga Kereta Cepat Jakarta-Surabaya

Dia menambahkan, pemerintahan junta ingin menunjukkan kekuatan diplomasi mereka kepada dunia. Sedangkan Agatha Kratz, peneliti dari European Council on Foreign Relations, juga mempertanyakan jumlah rasio penumpang dan kargo yang akan diangkut kereta supercepat tersebut.

“Belum jelas juga bagaimana sebenarnya proyek tersebut untuk digunakan,” katanya. Diamengatakan, proyekitu sebenarnya bukan untuk kereta supercepat, tetapi direncanakan untuk kecepatan medium sekitar 160 km per jam. Namun, Kratz mengungkapkan, kalau proyek itu menguntungkan bagi Thailand untuk meningkatkan infrastruktur jalan dan rel kereta api.

Thailand berpikir prospek pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan ekspor ke China dengan proyek kereta supercepat. China merupakan mitra perdagangan terbesar kedua setelah Jepang bagi Thailand. “Bangkok butuh memperluas pasar ekspor,” kata peneliti senior politik Asia Tenggara dari Universitas London, Carlo Bonura. Thailand melihat jaringankeretadengan China akan menjadi jaminan sukses industri Thailand.

(Rizkie Fauzian)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya