Dia menambahkan, pemerintahan junta ingin menunjukkan kekuatan diplomasi mereka kepada dunia. Sedangkan Agatha Kratz, peneliti dari European Council on Foreign Relations, juga mempertanyakan jumlah rasio penumpang dan kargo yang akan diangkut kereta supercepat tersebut.
“Belum jelas juga bagaimana sebenarnya proyek tersebut untuk digunakan,” katanya. Diamengatakan, proyekitu sebenarnya bukan untuk kereta supercepat, tetapi direncanakan untuk kecepatan medium sekitar 160 km per jam. Namun, Kratz mengungkapkan, kalau proyek itu menguntungkan bagi Thailand untuk meningkatkan infrastruktur jalan dan rel kereta api.
Thailand berpikir prospek pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan ekspor ke China dengan proyek kereta supercepat. China merupakan mitra perdagangan terbesar kedua setelah Jepang bagi Thailand. “Bangkok butuh memperluas pasar ekspor,” kata peneliti senior politik Asia Tenggara dari Universitas London, Carlo Bonura. Thailand melihat jaringankeretadengan China akan menjadi jaminan sukses industri Thailand.
(Rizkie Fauzian)