YOGYAKARTA – Mencermati perkembangan ekonomi global saat ini, kolaborasi antarnegara dalam memproduksi barang seperti tanpa batas. Indonesia harus mampu beradaptasi dengan situasi yang cepat berubah ini demi meningkatkan potensi ekonomi dalam negeri dalam rantai nilai global (Global Value Chain/GVC) yang menjadi tren saat ini.
Dalam rantai nilai global tersebut, World Trade Organization (WTO) tahun 2017 mencatat partisipasi Indonesia dalam rantai global tersebut masih tergolong rendah. Lembaga tersebut, kata Arif, memberikan indeks partisipasi Indonesia sebesar 43,5, di bawah rata-rata partisipasi agregat negara berkembang yang 48,5.
Malaysia merupakan negara yang memiliki partisipasi sangat tinggi, yaitu dengan indeks mencapai 60,8. Begitu juga dengan Thailand (54,3) dan China (47,7). Indeks partisipasi ini mengindikasikan keterlibatan suatu negara dalam produksi sebuah barang yang melibatkan banyak negara saat produksi.
“Ini sudah menjadi kecenderungan global. Indonesia harus terlibat aktif dalam proses rantai nilai tersebut,” papar Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta di Yogyakarta.
Baca juga: