JAKARTA - Sektor perkantoran belum menunjukkan geliat positif pada tahun 2017 ini. Hal tersebut terlihat dari beberapa perkantoran di Jakarta baik di Central Business District (CBD) maupun non-CBD, banyak yang masih belum terisi (kosong).
Tercatat, berdasarkan riset yang dilakukan konsultan properti Savills Indonesia, tingkat vacancy (kekosongan) kantor pada tahun 2017 meningkat sekitar 21,5%. Padahal pada tahun sebelumnya yakni pada 2016, tingkat kekosongan kantor hanya mencapai 15,7%.
Baca Juga: Tarif Sewa Gedung Turun, Tingkat Okupansi Perkantoran Mulai Membaik
Director Head of Research and Consultants Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan, banyaknya kantor yang kosong pada tahun 2017 dikarenakan angka pasokan dengan tingkat permintaan tidaklah seimbang. Tercatat, jumlah pasokan di kawasan CBD saja ada sekitar 515.000 meter persegi pasokan perkantoran, sedangkan pasokan kantor baru di non CBD mencapai 151.000 meter persegi.
Sementara dari sisi permintaan perkantoran di kawasan CBD hanya mencapai 85.500 meter persegi. Sedengkan permintaan untuk kawasan non CBD hanya ada di angka 79.000 meter persegi.
Baca Juga: Tren Perkantoran Jakarta, Banyak Perusahaan Cari Kantor yang Sudah Jadi
"Penambahan jumlah pasokan perkantoran baru turut mengatrol kenaikan persentase ruang perkantoran yang kosong," ujarnya di Jakarta.
Selain itu lanjut Anton, hal yang mempengaruhi banyaknya sektor perkantoran yang kosong adalah kondisi perekonomian yang dinilai masih belum bisa tumbuh pesat. Hal tersebut pun mempengaruhi perkembangan bisnis perusahaan-perusahaan seperti oil, gas hingga perbankan.
Baca Juga: Walah, Banyak Pasokan Gedung Baru Buat Harga Sewa Kantor Turun 9%
"Kondisi ini (kantor sepi) akibat aktivitas bisnis yang tidak berkembang, Seperti oil dan gasm perbankan dan lain-lain. Bahkan ada yang tutup malah," jelasnya
Perusahaan teknologi serta e-commerce menjadi satu-satunya yang paling banyak menyumbang permintaan kantor. Hal tersebut tidak terlepas dari semakin berkembangnya industri e-commerce dan perusahaan teknologi di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan.
"Perusahaan yang bergerak di bidang teknologi merupakan pasar yang cukup potensial, hal ini tentunya seiring dengan keinginan mereka untuk pindah ke lokasi yang lebih prestisius," jelasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)