"Tapi gara-gara krisis 1998 collapse semua, sebagian collapse betulan karena keuangannya collapse dengan krisis, sebagian lagi menjadi wan prestasi karena penunjukan pemegang konsesi berbau KKN," kata Bambang.
Baca Juga: Luhut: ADB Tawarkan Rp200 Triliun untuk Normalisasi Sungai Citarum
Secara konsep, apabila pertumbuhan infrastruktur tidak bisa mengikuti pertumbuhan GDP, hal tersebut akan menghambat pertumbuhan ekonomi. "Cuman yang kita khawatir nanti, pertumbuhan di Indonesia tidak akan sustainable dan tidak akan lebih cepat kalau infrastruktur tidak dibenahi,"kata dia.
Lama -lama, lanjut dia, infrastruktur bukan lagi faktor pendukung tapi faktor penghambat dari pertumbuhan. Sebagai gambaran, besaran stok infrastruktur terhadap PDB di negara maju seperti Jepang mencapai di atas 100% atau lebih besar daripada GDP. Sementara China sudah hampir 80% dan Amerika Serikat sekitar 75%-76%.
(Martin Bagya Kertiyasa)