"Akibatnya tenaga kerja masih numpuk di sektor pertanian. Jadi sekitar pertanian turun terus tapi pekerjanya masih numpuk di sektor pertanian. Harusnya ujung tombaknya dari pertanian pindah ke industri eh industrinya hanya 13,48% menyerap tenaga kerjanya," jelasnya.
Karena banyaknya yang menganggur, adiknya para eks pekerja pertanian tersebut beralih menuju sektor perdagangan informal yakni pedagang kaki lima. Yang mana sektor tersebut merupakan sektor informal yang sangat rawan akan kemiskinan.
"Akhirnya mereka pindah ke perdagangan di kaki lima. Yang di lampu lalu lintas informal. Kemudian jasa jasa informal termasuk mobilisasi demo . Jadi pekerja informal yang tidak punya gaji tetap jaminan hari tua jadi rentan masyarakatnya," jelasnya.
Diloncatnya sektor sekunder yakni industri juga ternyata berpengaruh terhadap ekspor. Dengan diloncatnya sektor industri, maka Indonesia hanya bergantung pada ekspor komoditi seperti batu bara hingga sawit.
"Ekspornya batu bara sawit yang harganya gonjang ganjing jadi ekonomi kita rentan terhadap gonjang-ganjing dunia," ucapnya.
(Fakhri Rezy)