"Masih banyak negara yang tajam pelemahannya. Tapi persentasenya yang dilihat. Jangan dilihat absolutnya, karena kita kursnya belasan ribu per dolar," ungkapnya di Hotel Four Season, Jakarta, Selasa (24/4/2018).
Menurutnya faktor global yang menyebabkan pelemahan Rupiah bukan hanya kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Tapi pelemahan juga muncul akibat perang dagang yang saat ini masih terus berlanjut.
Dengan keadaan ini maka dia menilai, tekanan akan berhenti saat masalah global juga kembali membaik. Tapi membaiknya Rupiah setelah tekanan mungkin tidak bisa ke kondisi semula di kisaran Rp13.500 per USD.
"Kalau pasar sedang bergejolak, itu selalu akan ada waktunya untuk (Rebound) mungkin tidak kembali ke Rp13.500 per USD atau Rp13.400 per USD," jelasnya.