JAKARTA - Pembangunan jalan tol dinilai mengorbankan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pasalnya, perusahaan BUMN Karya dipaksa untuk berdarah-darah mengerjakan proyek jalan tol tersebut karena hampir semua proyek diserahkan kepada perusahaan plat konstruksi plat merah.
Menanggapi hal tersebut , Pengamat Ekonomi Cyrillus Harinowo mengatakan, sebetulnya ungkapan berdarah-darah untuk pembangunan infrastruktur tidak sepenuhnya benar. Sebab, istilah berdarah-darah ini hanya melihat cashflow perusahaan pada jangka pendek saja.
"Kalau dikatakan berdarah-darah ini masalah cashflownya jangka pendek saja," ujarnya saat ditemui di Menara BCA, Jakarta, Kamis (7/2/2019).
Baca Juga: Bukan Utang Luar Negeri, Biaya Pembangunan Jalan Tol Ternyata Berasal dari Pinjaman Bank