JAKARTA – Pemerintah optimistis perekonomian Indonesia tahun ini akan lebih baik, bahkan bisa mencapai 5,3% sesuai target dalam APBN 2019.
Pertumbuhan masih akan didorong konsumsi masyarakat yang cukup kuat. Selain itu, pertumbuhan ekonomi 2019 juga akan didorong investasi yang diperkirakan meningkat jika dibandingkan realisasi 2018. Kenaikan investasi itu lantaran kenaikan suku bunga tidak seperti tahun 2018 dan kepercayaan investor masih tetap terjaga.
”Prospek 2019 ditandai dalam asumsi APBN 5,3%. Apakah itu mampu dicapai? Saya jawab mampu. Faktornya, konsumsi, investasi meningkat, kenaikan suku bunga dengan kondisi yang lebih calm,” ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, kemarin.
Baca Juga: 10 Negara dengan Pertumbuhan Ekonomi Tercepat, Ada Indonesia!
Sri Mulyani menuturkan, optimisme tersebut juga terlihat dari penerimaan perpajakan yang tumbuh double digit dalam dua tahun terakhir. ”Tahun 2017 tumbuh 18%, tahun lalu 11%, agak lebih rendah, tetapi tetap double digit di atas pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ungkapnya.
Sektor perdagangan juga melonjak tinggi. Pada 2017, pertumbuhan penerimaan pajak dari sektor perdagangan 15%, sedangkan pada 2018 tumbuh sebesar 23%. Pertumbuhan pajak dari industri jasa keuangan mendekati 12%, sektor pertambangan recover tumbuh 51%, dan pertanian tumbuh 21%.
Menurut Menkeu, pertumbuhan pendapatan pajak dari berbagai sektor ekonomi tersebut menggambarkan kegiatan ekonomi di sektor-sektor itu sangat kuat. Artinya, kalau sektor-sektor tersebut melakukan produksi terus, maka pada saat yang sama sektor itu membutuhkan investasi baru, tambah kapasitas, atau investasi di tempat baru. ”Ini yang akan kita tangkap dengan berbagai policy kemudahan investasi,” ujarnya.
Baca Juga: Permintaan Domestik Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi Tahun Ini
Sri Mulyani mengatakan, dari sisi penerimaan pajak klasifikasi pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penghasilan (PPh) korporasi juga tumbuh tinggi. Hal ini menggambarkan penerimaan pajak merupakan cerminan dari kegiatan ekonomi yang ada.
”Pajak dan perpajakan termasuk bea dan cukai bukan hanya sebagai instrumen negara. Kami menggunakan instrumen ini untuk menciptakan iklim investasi yang baik. Makanya, kami juga melakukan pelayanan dan memberikan fasilitas,” ujarnya.
Pertumbuhan ekonomi dari faktor domestik, Sri Mulyani optimistis masih kuat. Di sisi lain, pemerintah juga memantau dari sisi sektor keuangan agar siap menunjang perekonomian. ”Dengan APBN dan instrumen fiskal yang sehat serta terkelola dengan baik, itu bisa digunakan untuk terus menopang dan menjaga ekonomi Indonesia,” katanya.