JAKARTA - PT Optima Metal Sinergi Tbk resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui skema penawaran saham perdana (initial public offering/IPO), pada perdagangan Senin (23/9/2019). Emiten berkode saham OPMS tersebut menjadi perusahaan ke-37 yang tercatat di tahun 2019.
Perusahaan yang bergerak di bidang pionir besi scrap kapal bekas ini melepas 400.000.000 lembar saham ke publik atau setara 40% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah IPO. Harga yang ditawarkan sebesar Rp135 per saham, dengan demikian perusahaan bakal meraup dana segar dari IPO sebesar Rp54 miliar.
Baca juga: Perusahaan Besi Bekas Ini Akan Melantai di Bursa
Saat pembukaan perdagangan, saham OPMS dibuka naik 68,89% dari harga IPO menjadi Rp228 per saham. Saham OPMS tercatat ditransaksikan 8 kali dengan volume 132 lot saham dan menghasilkan nilai sebesar Rp3,01 miliar.
Direktur Utama OPMS Meilyna Widjaja mengatakan bahwa IPO ini menjadi upaya perseroan untuk meningkatkan kinerja keuangan dengan memperkuat modal kerja yang akan digunakan untuk membeli kapal yang akan dijadikan besi scrap.
Baca juga: IPO, Itama Ranoraya Patok Harga Saham Rp50
"Kami bersyukur dan berterimakasih kepada semua pihak yang terlibat untuk melantainya OPMS di bursa pagi hari ini. Dengan kucuran dana segar yang diperoleh dari publik melalui mekanismr IPO ini berarti dapat semakin memperkuat fundamental bisnis perseroan dalam menyediakan bahan mentah besi baja berkualitas," ujar dia gedung BEI Jakarta, Senin (23/9/2019).
Menurut dia, IPO menjadi langkah startegis bagi perusahaan untuk menekankan kepada stakeholder maupun shareholders bahwa industri basi scrap kapal bekas yang baru dijalankan pada 2018 ini memiliki keunggulan yang kompetitif yaitu memiliki proses uji kelayakan yang baik, mulai daru segi legalitas, finansial dan operasional.
Baca juga: Indonesia Masuk Peringkat ke-10 Pasar IPO Global
"Uji kelayakan yang kami maksud yakni ketika kami membeli kapal bekas untuk dijadikan scrap, kapal bekas tersebut selalu memenuhi surat izin penghapusan kapal atau deletion certificate. Kemudian kami juga selalu melakukan scrap kapal bekas yang menghasilkan bahan baku yang memenuhi standar nasional Indonesia (SNI) 2007 untuk produksi beton," ungkap dia.
(Feby Novalius)