JAKARTA - Kalangan konglomerat di Indonesia, orang-orangnya hanya itu-itu saja. Bahkan, hampir semua konglomerat diisi dengan nama-nama lama.
Untuk itu, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bahlil Lahdahilia meminta para pengusaha muda agar berjuang keras supaya menjadi konglomerat. Pasalnya, Bahlil ingin pengusaha muda naik kelas.
Meski demikian, ia mengaku bukan ingin memusuhi konglomerat yang ada. “Kami tidak bermaksud konglomerat kita musuhi, yang kuat tetap kuat tapi yang bawah bisa jadi kuat," ucapnya.
Baca Juga: Gantikan Bahlil, Mardani Maming Pimpin Hipmi hingga 2022
Untuk itu, Okezone menyajikan sejumlah fakta perihal konglomerat di Indonesia yang membutuhkan muka baru, terutama dari kalangan pengusaha muda. Simak faktanya, Senin (23/9/2019):
1. Penguasaan ekonomi nasional mulai berkurang
Pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah diyakini mampu meningkatkan pemerataan ekonomi di Tanah Air. Karena yang semula hanya berpusat di Jawa, kini seluruh daerah bisa merasakan manfaat ekonomi. Hal itu dibuktikan dengan berkurangnya penguasaan akses ekonomi para konglomerat. Pada 2014, setiap satu 1% konglomerat di Indonesia menguasi 50,2% akses ekonomi nasional.
"Sekarang (akses ekonomi konglomerat) turun jadi 46%. Ini adalah sebuah prestasi yang tidak bisa dinaifkan dan harus diakui bahwa ini adalah kerja besar pemerintah untuk mewujudkan pemerataan ekonomi," ujar Bahlil di Munas Hipmi di Hotel Sultan, Jakarta.
2. Masih diisi nama-nama lama
Ketua Umum HIPMI Bahlil Lahdahilia mengatakan, hingga saat ini nama nama konglomerat di Indonesia masih diisi nama-nama lama. Bahkan nama-nama lama ini sudah ada sejak tahun 1998 pada saat krisis moneter.
Baca Juga: Hipmi Ingin Pengusaha Muda Jadi Konglomerat Baru Indonesia
"Bahwa dalam reformasi 1998 memiliki di urusan politik, tetapi konglomeratnya masih belum ganti dan itu-itu saja. Kami mohon, teman-teman muda ingin naik kelas,” katanya.
3. Pengusaha di Indonesia masih sedikit
Bahlil merasa jumlah pengusaha masih sangat sedikit dibandingkan negara tetangga lainnya.
"Jumlah pengusaha nasional sekarang sudah mencapai 3,1% dari jumlah penduduk. Ini kita lakukan Hipmi go to school, kampus, pesantren. Tapi kita tidak boleh berbangga diri, Karena kita tetap terlau jauh negara-negara Asia Tenggara, Filipina 4%, Singapura 7%, Malaysia 5 persen, Thailand 5,6%. Kita masih sangat jauh di bawah," tambah dia.
4. Butuh 'virus' dari konglomerat
Sedikitnya pengusaha nasional yang beredar di Indonesia mendapat perhatian dari HIPMI, terutama pengusaha muda. Untuk itu, ia membutuhkan bantuan konglomerat-konglomerat lama supaya menyebarkan 'virus' demi menumbuhkan pengusaha baru.
"Kita masih sangat jauh di bawah, dan oleh karena itu kita harus melanjutkan untuk menyebarkan virus entrepreneurship," mohonnya.
5. Perlu dukungan pemerintah
Menurut Bahlil untuk menghasilkan sebuah konglomerat perlu dukungan pemerintah. Karena menurutnya, konglomerat lahir tidak muncul secara sendirinya.
"Tidak ada konglomerat yang jadi karena campur tangan pemerintah. Kami menyampaikan kita punya sumber daya alam yang banyak, punya perikanan yang luas,” tutur Bahlil.
6. Mengembangkan pengusaha muda
Pemerintah daerah (Pemda) turut diminta memberikan kesempatan lebih luas kepada para pengusaha muda untuk berkembang di daerahnya masing-masing.
"Upaya yang bisa dilakukan secara langsung oleh Pemda adalah memberikan proyek pekerjaan kepada para pengusaha muda. Sehingga mereka dapat belajar dan kelak akan tumbuh menjadi entrepreneur atau wirausahawan tangguh," kata Ketua Umum Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Mardani H Maming dalam keterangan tertulisnya, Jakarta.
(Fakhri Rezy)