JAKARTA - Emas menjadi salah satu instrumen investasi yang terus mengalami tren kenaikan harga di tengah kekhawatiran wabah virus korona atau corona virus yang menyebabkan penurunan pasar.
Melansir CNN, Jakarta, Selasa (28/1/2020), harga emas naik lebih dari 20% dalam satu tahun terakhir dan diperdagangkan mendekati USD1.600 atau per ounce atau level tertinggi sejak 2013. Sedangkan logam mulia lainnya seperti perak dan platinum juga tengah mengalami reli.
Baca Juga: Tutup Taman Hiburan Imbas Virus Korona, Saham Disney Alami Tekanan
Beberapa ahli bertanya-tanya apakah emas bisa mencapai USD2.000 per ounce dalam waktu dekat. Harga emas terakhir mencapai tertinggi sepanjang masa di atas USD1.900 pada 2011 di tengah krisis utang Eropa.
Berbeda dengan kebanyakan sektor lainnya yang mengalami penurunan menyusul menyeruapnya virus corona, investasi emas terus berkilauan. Selain itu, tiga pemotongan terhadap suku bunga oleh Federal Reserve tahun lalu yang kemudian melemahkan dolar AS juga membuat investasi emas kian menarik dibandingkan greenback dan mata uang kertas lainnya.
Baca Juga: Ekonomi Dunia 'Terinfeksi' Virus Korona, China dalam Tekanan
"Alokasi 5% hingga 10% dalam emas dan stok emas masuk akal, ini adalah awal dari reli emas." kata Ralph Aldis, manajer portofolio dengan US Global Investors.
Sedangkan menurut angka dari World Gold Council, pembelian emas bank sentral naik 12% dalam tiga kuartal pertama tahun 2019 dari periode yang sama pada tahun 2018. Sejumlah bank sentral menambahkan 547,5 metrik ton emas secara bersih.