JAKARTA - Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi mencatat sudah ada 444 kegiatan investasi bodong yang dihentikan sepanjang 2019. Angka itu rupanya meningkat tiga kali lipat dari tahun sebelumnya.
Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L. Tobing menyatakan, menjamurnya investasi bodong ini dipicu rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai investasi tapi gampang tergiur pada untung besar.
Agar tampil menarik, investasi bodong ini biasanya mengubah tampilan jadi lebih menarik yakni lewat media sosial plus melibatkan tokoh agama atau selebriti.
"Saat ini mereka (investasi bodong) mengikuti perkembangan zaman, bagaimana masyarakat dijejali dengan penawaran-penawaran investasi lewat medsos, aplikasi, situs, SMS," kata Tongam seperti dikutip dari BBC Indonesia, Minggu (2/2/2020).
"Modus lain adalah mereka menggunakan tokoh-tokoh agama atau artis untuk lebih meyakinkan," imbuhnya.
Teranyar, ada kasus Memiles yang berkedok investasi iklan digital. Saat ini pihak satgas telah menutup Memiles lantaran tak berizin dan aktivitasnya identik dengan money game atau skema piramida.
Meski demikian, Tongam meyakini uang para nasabah yang sudah masuk ke investasi ilegal tak bisa balik secara utuh. "Dari pengalaman yang ada, tidak pernah ada member yang dapat kembali 100%. Ya sudah hebat dapat 10-20%. Sebab dari berbagai kasus, asetnya jauh lebih rendah dari kewajiban," katanya.
Baca Juga: Investasi Bodong dari Pandawa hingga MeMiles, Rayuan Maut Berbuah Pahit