Alasan Cadangan Devisa Turun Jadi USD121 Miliar, untuk Bayar Utang hingga Stabilkan Rupiah

Giri Hartomo, Jurnalis
Rabu 08 April 2020 13:43 WIB
Bank Indonesia. (Foto: Okezone.com)
Share :

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa pada Maret 2020 mencapai USD121 miliar. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan posisi akhir Februari yang sebesar USD130,4 miliar.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, ada beberapa penyebab mengapa posisi cadangan devisa pada akhir Maret mengalami penurunan. Salah satunya adalah digunakan untuk membayar utang pemerintah yang jatuh tempo sebesar USD2 miliar.

Baca juga: Cadangan Devisa USD121 Miliar Setara Pembiayaan 7 Bulan Impor, di Atas Standar Internasional

"Cadangan devisa kalau akhir Februari ini USD130,4 miliar, akhir Maret kemarin turun menjadi USD121 miliar. Ini kenapa turun, karena sekitar USD2 miliar untuk bulan Maret ini ada utang pemerintah yg jatuh tempo atas nama pemerintah kita gunakan cadangan devisa," ujarnya dalam rapat virtual dengan Komisi XI, Rabu (8/4/2020).

Selain digunakan untuk membayar utang pemerintah, cadangan devisa digunakan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan juga pasar saham. BI menggelontorkan USD7 miliar untuk memasok valas di pasar.

Baca juga: Cadangan Devisa Indonesia Turun Jadi USD121 Miliar di Tengah Covid-19

Asal tahu saja, pada akhir Maret baik Rupiah maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan. Nilai tukar rupiah terus melemah hingga sempat mendekati angka Rp17000 per USD.

Sedangkan IHSG juga terus mengalami pelemahan hingga sempat menyentuh level 3.900. Bahkan, beberapa kali pasar saham sempat dihentikan sementara atau terkena trading halt.

"Sekitar USD7 miliar ini kami gunakan untuk memasok valas di pasar khususnya pada minggu kedua dan ketiga," ucapnya.

Menurut Perry, pelemahan pada nilai tukar rupiah dan pasar saham juga dikarenakan investor global ramai-ramai melepas sahamnya, Hal ini imbas dari pandemi virus corona yang sudah mulai memasuki Indonesia dan penyebarannya semakin meluas.

"Kenapa? karena waktu itu terjadi panic global, investor2 global melepas sahamnya, obligasinya, dalam waktu dekat dan bersamaan terjadi di seluruh dunia," kata Perry.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya