JAKARTA - Dalam menjalankan suatu usaha, tentu ada berbagai risiko yang akan dihadapi. Sama halnya dengan bisnis tanaman hias, ada beberapa risiko yang mesti diantisipasi, seperti tanaman mati, kecurian, dan barang tidak laku.
Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi hal yang disebutkan di atas, perlu keseriusan dalam menjalani bisnis tanaman hias. Berikut hal yang perlu dipelajari seperti melansir dari buku "Kaya dari Bisnis Tanaman Hias" oleh Redaksi AgroMedia, Jakarta, Sabtu (22/8/2020).
Baca Juga: 9 Strategi Membangun Usaha Minuman dan Snack
1. Tanaman Mati
Risiko utama dalam berbisnis tanaman hias adalah tanaman mati. Kematian tanaman umumnya disebabkan oleh serangan hama dan penyakit. Untuk itu, sebelum memulai bisnis ini, sebaiknya sudah paham jenis-jenis penyakit yang biasa menyerang dan bagaimana karakternya.
Selain hama dan penyakit, penyebab lain matinya tanaman adalah keteledoran pemilik dan kesalahan dalam perawatan. Biasanya hal ini terjadi karena agroklimat yang tidak cocok, over dosis pupuk, dan salah media tanam. Untuk itu, penting merawat dengan benar.
Baca Juga: Buka Usaha Es Buah, Modal Kecil Untungnya Enggak Main-Main
2. Kecurian
Risiko yang satu ini sebetulnya bisa terjadi pada semua usaha yang berbentuk barang. Namun, dalam bisnis tanaman hias, kerugian akibat pencurian bisa sangat fatal. Apalagi jika yang dicuri adalah indukan untuk memperbanyak atau memunculkan bibit.
Kerugian akan semakin besar apabila yang dicuri adalah yang tergolong mahal. Karena itu, untuk menghindari pencurian sebaiknya tempat usaha diberi alat pengaman, seperti teralis besi atau kawat yang dipasang mengitari lahan, gunakan penjaga toko atau memasang CCTV.
3. Barang Tidak Laku
Sebenarnya risiko ini tidak begitu besar, karena tanaman hias tergolong bisnis berjalan. Artinya, barang yang saat ini tidak laku, dalam jangka panjang kemungkinan nilai jualnya justru akan meningkat.
Hal itu terutama berlaku untuk tanaman yang akan memunculkan anakan seperti aglaonema. Namun, dengan catatan tanaman tersebut dirawat dengan baik.