Penataan kembali prioritas dapat memiliki konsekuensi jangka panjang bagi perusahaan dan kerajaan Saudi. Mengingat beberapa proyek memiliki tingkat sensitif yang tinggi.
"Selalu ada politik yang terlibat," kata Direktur Pelaksana Time Tengah di Facts Global Energy Iman Nasseri.
Baca juga: Saudi Aramco Mundur, Pertamina Cari Mitra Baru Garap Kilang Cilacap
Masalah besar bagi Aramco adalah prospek harga minyak dengan minyak mentah berjangka Brent, patokan global, masih 33% lebih rendah dari awal tahun. Antara April dan Juni, laba bersih Aramco anjlok lebih dari 73% menjadi USD6,6 miliar atau Rp88,5 triliun karena kebijakan lockdown sehingga mengurangi permintaan.