"Beberapa indikator pasar tenaga kerja secara signifikan lebih lemah daripada sebelum krisis. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan bahwa sekitar 5,1 juta orang (2,5% dari populasi usia kerja) telah menjadi pengangguran atau keluar dari pasar tenaga kerja dan 24 juta orang lainnya (11,8% dari populasi usia kerja) bekerja dengan dikurangi jam kerjanya," jelas laporan tersebut.
Tingkat pengangguran naik 1,8 poin persentase menjadi 7,1% dan tingkat setengah pengangguran naik 3,8 poin menjadi 10,2% pada kuartal III dibandingkan tahun sebelumnya. Dari data Bank Indonesia bulan Agustus lalu, antara 35 dan 50% pekerja dilaporkan berpenghasilan lebih rendah dari sebelum krisis.
Respons moneter terhadap krisis sangat kuat tetapi melibatkan risiko keuangan makro yang perlu dikelola. Respons bank sentral yang berani dan ambisius di negara-negara maju dan pasar berkembang telah meredakan kondisi keuangan global dan menstabilkan arus modal.
"Hal ini pada saatnya akan memungkinkan Rupiah pulih dan inflasi tetap rendah di tengah permintaan domestik dan harga energi yang lemah," tukasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)