NEW YORK - Wall Street jatuh pada akhir perdagangan Kamis, dengan indeks Nasdaq membukukan persentase penurunan harian terbesar. Hal tersebut karena saham teknologi di bawah tekanan menyusul kenaikan imbal hasil obligasi AS.
Dow dan S&P 500 mencatat penurunan harian terbesar sejak akhir Januari. Dow Jones Industrial Average ditutup 559,85 poin atau turun 1,75% menjadi 31.402,01.
S&P 500 kehilangan 96,09 poin atau 2,45% menjadi 3.829,34 dan Nasdaq Composite turun 478,54 poin atau 3,52%, menjadi 13.119,43. Secara keseluruhan saham AS melemah karena lonjakan imbal hasil obligasi.
Baca Juga: Wall Street Menguat Ditopang Kebijakan The Fed terkait Inflasi
Imbal hasil Treasury 10-tahun mencapai level tertinggi dalam satu tahun di 1,614%. Hal ini pun mendorong investor khawatir tentang valuasi yang besar untuk mengunci keuntungan pada beberapa saham dengan pertumbuhan tinggi.
Hasil obligasi Treasury naik di atas hasil dividen S&P 500, menghapus keuntungan dari hasil pasar saham.
“Tarif itu penting. Pada 1,5%, imbal hasil sebanding dengan hasil dividen S&P 500. Dan tidak ada risiko modal dalam 10 tahun, Anda akan mendapatkan kembali pokok. Tiba-tiba itu kompetitif dengan saham," kata Analis Investasi Chase Charlottesville, Peter Tuz, dilansir dari Reuters, Jumat (26/2/2021).
Baca Juga: Wall Street Mixed, Dow Jones dan S&P Kompak Menguat
Apple, Amazon, Microsoft Corp, Alphabet, Facebook dan Netflix kompak melemah antara 1,2% sampai 3,6%. Sektor teknologi pada indeks S&P 500 turun 3,5%, begitu pula layanan komunikasi melemah 2,6%.
Sementara itu, data menunjukkan lebih sedikit orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran pekan lalu karena infeksi Covid-19 turun. Tetapi prospek jangka pendek tetap belum pasti setelah badai musim dingin mendatangkan malapetaka di Selatan bulan ini
Meski Wall Street melemah, optimisme pasar terhadap lebih banyak stimulus dan kecepatan vaksinasi yang lebih cepat pada awal bulan telah menempatkan indeks Dow Jones pada level bulanan terbaiknya sejak November.