Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra mengatakan penguatan yield obligasi pemerintah AS ini disebabkan oleh data survei aktivitas manufaktur AS semalam yang dirilis lebih bagus dari proyeksi. data yang membaik ini mengindikasikan pemulihan ekonomi di AS.
"Kenaikan yield sebelumnya juga disebabkan oleh ekspektasi kenaikan inflasi karena rencana perilisan stimulus besar di AS," kata Ariston.
Dari dalam negri, tingkat inflasi yang masih rendah yang mengindikasikan tingkat permintaan belum meninggi dan pemangkasan tingkat suku bunga acuan BI yang memperkecil spread dengan yield aset AS, turut menekan nilai tukar rupiah.
"Potensi kisaran USDI-DR hari ini di 14.200-14.300," tandasnya.
(Dani Jumadil Akhir)