JAKARTA - Spekulasi tentang peluang pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat dari target, sempat menimbulkan kepanikan di Pasar Modal Indonesia, termasuk pasar obligasi. Pasar obligasi Indonesia sempat mengalami tekanan seiring dengan merangkaknya yield US Treasury dalam beberapa waktu terakhir.
Hal itu terjadi karena asumsi bahwa pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat akan memicu diterapkan kebijakan taper tantruma akan terjadi lebih cepat pula. Bank Sentral AS (The Fed) sudah memberi pernyataan, bahwa peluang pemulihan AS terbuka namun tidak seatraktif yang dibayangkan. Dengan demikian, kenaikan inflasi akan tetap terkendali. Bahkan ditandaskan bahwa ekonomi AS kemungkinan baru pulih pada tahun 2023.
Baca Juga: Heboh Pompom Saham, Waspada Investor Tak Berkualitas
Walau sempat mengalami tekanan karena kenaikan yield US Treasury, menurut data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield obligasi Indonesia tetap masih atraktif. Seperti diketahui, kenaikan yield US Treasury sempat menyentuh level 1,57% pada 5 Maret 2021 atau naik sebesar 70,30% secara year to date (ytd).
Seiring kenaikan yield US Treasury, yield SBN acuan 10 tahun sempat terkerek dan menyentuh level 6,7% pada 23 Februari, sekaligus merupakan level tertingginya sepanjang tahun 2021. Walau sempat bergejolak, real yield (yield yang telah memperhitungkan tingkat inflasi) obligasi negara Indonesia masih atraktif dibanding beberapa negara tetangga.
Hal itu terbukti dari real yield obligasi negara Indonesia masih mencapai level 5,24%. Angka tersebut, menurut PHEI, masih lebih tinggi dibandingkan dengan real yield obligasi di negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura.
Baca Juga: 2 Perusahaan IPO, Kapitalisasi Market di BEI Naik 1,17%
"Jika dilihat dari inflasi Indonesia yang lebih rendah, bahkan cenderung stabil pergerakannya, bahkan inflasi bisa di bawah 2 persen, real yield 5,24 persen tentu saja lebih tinggi," kata Head of Research & Market Information Department PHEI Roby Rushandie dalam acara Edukasi Wartawan terkait Outlook Pasar Obligasi 2021, Rabu (10/3/2021).
Di pasar SBN domestik, menurut Roby, sempat terjadi peningkatan CDS dan Volatility Index (VIX) yang terjadi pada Februari lalu menjadi pertimbangan bagi asing untuk berinvestasi di Indonesia. Karena itu, meski peluang positif tetap ada, ia mengingatkan risiko sudden reversal.
“Real yield SBN kita masih lebih tinggi ketimbang negara lainnya, yaitu di kisaran 5,24%. Namun, apabila kenaikan yield US Treasury berlanjut, itu berpotensi menimbulkan risiko sudden reversal. Asing lebih memilih beralih ke US Treasury karena dianggap sebagai safe haven,”ucap dia.