JAKARTA - Kisah seorang tukang setrika tradisional di Suriah merasa bangga dengan profesi yang telah berusia puluhan tahun. Dia menyetrika pakaian dengan alat tua dan tanpa menggunakan listrik.
Di salah satu gang di kota Idlib, di Suriah barat daya, Abdo Dahnin telah berprofesi sebagai tukang setrika pakaian selama 45 tahun. Tanpa menggunakan listrik, dia meletakkan handuk basah di pakaian sebelum menekannya dengan setrika tua. Setrika terlebih dahulu dipanaskan di atas kompor gas portabel.
Baca Juga: Perubahan Model Bisnis di Tengah Covid-19, Cermati Sebelum Merintis Usaha
Para pelanggannya menyukai metode menyetrika tradisional itu, kata pria berusia 70 tahun tersebut.
“Saya telah menjalani profesi ini dan bekerja di toko ini selama 45 tahun dan saya tidak ingin mengubahnya. Ada perang, serangan udara, dan tragedi, tetapi alhamdulillah, saya tidak pernah meninggalkan pekerjaan ini dan tidak akan meninggalkannya karena setrika ini adalah milik saya, pasangan hidup saya. Saya mencari nafkah, alhamdulilłah berkat setrika ini. Saya tidak akan menggantinya, apa pun yang terjadi,” jelasnya.
Baca Juga: Jangan Bunuh Diri! Ini Tips agar Bisnis Kafe dan Restoran Bertahan di Tengah Pandemi
Tukang setrika berlisensi itu percaya bahwa para pelanggan tidak akan meninggalkannya. “Pelanggan saya sudah terbiasa dengan saya. Mereka tidak akan meninggalkan saya karena mereka terbiasa dengan saya, dan saya terbiasa dengan mereka. Mereka menyukai setrika ini, yang merupakan dasar penyetrikaan dengan uap dan sungguh-sungguh merupakan proses penyetrikaan pakaian yang benar, setrika ini!”