Intip Desain Kereta Cepat 350 Km/Jam yang Mirip Komodo

Suparjo Ramalan, Jurnalis
Senin 01 November 2021 19:05 WIB
Desain Kereta Cepat Jakarta-Bandung. (Foto: Okezone.com/Instagram KCIC)
Share :

JAKARTA - Rangkaian kereta atau Electric Multiple Unit (EMU) untuk proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung memasuki tahap produksi di pabrik China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC) Sifang yang berada di Qingdao, Tiongkok.

Mulai diproduksi sejak akhir Mei 2021, kereta untuk KCJB memiliki teknologi canggih dan modern. EMU dengan tipe CR400AF didesain dengan penggunaan energi yang rendah sehingga sangat ramah lingkungan.

Tipe EMU ini juga memiliki fitur safety keselamatan yang sudah diperkuat dan paling muktahir. Dengan bantuan dari Operation Command Center (OCC), EMU ini juga dihubungkan dengan peralatan pemantau bahaya akibat gejala alam, diantaranya curah hujan tinggi, angin kencang, gempa bumi, serta obyek asing dan tahan api.

Baca Juga: Wuss! Kereta Cepat Tersambung ke Kota Bandung Lewat Stasiun Padalarang

“Kereta yang digunakan lebih cepat dari kereta konvensional yang sudah ada, lebih modern. Termasuk dilengkapi dengan monitoring system di dalam kabinnya, seperti monitoring pantograf, suhu ruangan, tegangan dan arus listrik, status pintu di tiap kereta dan lain sebagainya. Selain itu Material EMU dibuat fire resistance atau tahan api menyesuaikan standard yang ada,” terang Direktur Utama PT KCIC, Dwiyana Slamet Riyadi, Senin (1/11/2021).

Tak hanya itu, Dwiyana menjelaskan EMU untuk KCJB dirancang mampu meminimalisir getaran dan kebisingan. Dengan begitu penumpang dapat merasakan pengalaman menaiki kereta yang dapat melaju hingga kecepatan operasi 350 km/jam dengan nyaman (Kecepatan Desain 400 km/jam).

Baca Juga: Dampak Ekonomi Kereta Cepat Jakarta-Bandung Baru Terasa 30 Tahun

“Kebisingan dan getaran EMU yang digunakan untuk rangkaian kereta cepat berada di level yang paling rendah/minimum,” jelasnya.

Salah satu alasan kenyamanan di dalam kereta cepat dapat terjadi karena pengadopsian dari teknologi canggih dari Bogie menggunakan sistem suspensi yang terdiri dari suspensi primer menggunakan cylindrical helical spring dan suspensi sekunder menggunakan air spring serta dilengkapi dengan peredam. Comfort index beserta Stability index dipantau dengan sangat ketat.

Dwiyana menambahkan jika kecanggihan EMU KCJB juga dapat ditemukan pada sistem pengoperasiannya yang sudah menggunakan teknologi ATP (Automatic Train Protection) sesuai dengan standard yang disyaratkan dalam Kereta Kecepatan Tinggi dan juga standard Tiongkok dan dunia. Sistem ini sudah terbukti mampu menunjang keselamatan dan diakui oleh industri kereta cepat dunia.

Desain EMU yang digunakan pada KCJB memiliki muatan lokal. Pada desain eksterior, EMU untuk proyek KCJB memiliki warna merah dan silver dengan bentuk luar yang sekilas mirip Komodo. Hal ini tercermin pula di eksterior EMU KCJB yang menggunakan motif corak segitiga yang merepresentasikan sisik Komodo.

Warna merah pada desain eksterior EMU mengambil inspirasi dari warna Merah Putih bendera kebangsaan Indonesia. Sehingga, warna merah pada dinding samping dan bagian depan yang bergerak saat EMU KCJB melaju akan mengingatkan pada bendera yang berkibar serta memupuk rasa bangga pada tonggak sejarah transportasi massal modern yang pertama di Asia Tenggara ini.

Sementara itu, Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) akan mengintegrasikan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) dengan moda transportasi lainnya. Salah satunya, stasiun kereta api (KA) dibawa pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Dwiyana Slamet Riyadi mencatat, pada fase awal, ada empat stasiun yang digunakan untuk melayani penumpang KCJB. Keempat stasiun tersebut diantaranya, Stasiun Tegalluar, Padalarang, Karawang, dan Halim.

Untuk Stasiun Padalarang akan dijadikan stasiun hub yang bersisian jalur eksisting KAI di Padalarang. Tujuan integrasi moda transportasi darat tersebut untuk memberikan kemudahan bagi para pengguna jasa. Selain itu, integrasi juga dinilai mampu meningkatkan konektivitas penumpang dari pusat Kota Bandung dan Cimahi yang akan menggunakan layanan kereta cepat.

“Di Stasiun Hub Padalarang ini, akan terjadi konektivitas yang nyaman bagi penumpang KCJB yang ingin langsung melanjutkan perjalanan ke Kota Cimahi dan Bandung dengan KA Feeder yang dilayani oleh PT KAI ” ujar Dwiyana.

Dia menjelaskan, penambahan stasiun Hub di Padalarang dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Seperti demografi, komersial, infrastruktur di area Padalarang yang memadai, hingga menyasar penumpang yang berasal dari Bandung bagian Barat.

Di lain sisi, Stasiun KCJB akan berada di sebelah barat stasiun KA Padalarang. Penumpang yang hendak menggunakan layanan Kereta Cepat dari Padalarang atau sebaliknya akan disediakan KA Konektivitas menuju stasiun Cimahi dan Bandung.

"KA Feeder menggunakan rangkaian KRD yang didesain seperti KA Bandara, dan nantinya akan melayani rute dari Stasiun Padalarang menuju Stasiun Bandung serta dapat berhenti di stasiun Cimahi. Pemberangkatan KA Feeder ini adalah setiap 20 menit pada jam sibuk dan 30 menit di luar jam sibuk atau menyesuaikan operasional kereta cepat," ungkapnya.

Adapun durasi perjalanan dari Stasiun Padalarang ke Stasiun Bandung adalah 18 menit. Jika berhenti di Stasiun Cimahi maka durasi perjalanan menjadi 22 menit.

Sementara pengoperasian Stasiun Tegalluar diharapkan dapat menyasar penumpang di Bandung bagian Timur, akan terhubung dengan Bus Rapid Transit dan juga taxi. Stasiun Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Tegalluar juga memiliki kemudahan aksesibilitas, mulai dari exit tol Padaleunyi arah Jakarta dan aksesibilitas dari dan menuju GBLA.

Lebih lanjut, pada fase pertama pengoperasian Kereta Cepat Jakarta-Bandung ini, Stasiun Walini belum dimasukkan menjadi stasiun pelayanan mempertimbangkan aspek komersial. Saat ini, KCIC sedang melakukan upaya efisiensi dengan mengurangi potensi cost overrun.

Dwiyana menekankan meski terjadi penundaan pembangunan Stasiun Walini, bukan berarti pengerjaan konstruksi di Walini dibatalkan. Ia menuturkan PT KCIC akan melakukan pembangunan Stasiun Walini di fase selanjutnya sesuai arahan pemegang saham

“Penundaan pembangunan ini bukan berarti pengerjaan konstruksi di Walini batal. Namun hanya ditunda sementara waktu,” tutur dia.

Hingga saat ini KCIC masih terus melakukan percepatan pembangunan di 237 titik konstruksi secara komprehensif. Fokus konstruksi yang menjadi prioritas antara lain penyelesaian pengeboran 3 terowongan dari 13 terowongan yang ada di trase KCJB, menyelesaikan erection girder untuk konstruksi elevated track, terutama yang berada di daerah Batununggal, Bandung, serta pengerjaan subgrade 18, 19, dan 20 di perbatasan antara Karawang dan Purwakarta.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya