Kedua analis menganggap, tapering off yang dilakukan The Fed sebenarnya memberikan dampak positif. Kiswoyo menyebut, tapering yang dilakukan saat ekonomi AS pulih pada dasarnya bagus untuk semua pihak.
"Sebenarnya bagus buat semuanya. Kenapa? ... Jadi penduduk Amerika itu kalau belanja banyak banget. Otomatis mereka akan beli barang dari mana-mana. Sehingga, ekonomi Amerika yang sudah membaik, yang menandakan The Fed mulai mengurangi cetak duitnya, itu bagus untuk ekonomi dunia secara keseluruhan," jelas Kiswoyo.
Reza Priyambada mengatakan, pengurangan stimulus memang selalu dianggap negatif oleh pasar. Pasalnya, stimulus berarti memberikan tambahan dana pada perekonomian.
Ketika stimulus dikurangi, pasar akan bereaksi negatif dengan pandangan ragu akan perkembangan ekonomi tanpa stimulus. "Harusnya pengurangan stimulus yang diikuti dengan membaiknya ekonomi itu akan membuat ekonomi jadi lebih sehat," kata Reza.
Reza menganggap, tapering off The Fed tidak akan memberikan dampak negatif langsung pada perekonomian negara-negara, khususnya di Indonesia. Justru, reaksi negatif pasar yang berlebihan yang akan memberikan pengaruh. Misalnya, pelaku pasar yang ramai-ramai menjual asetnya karena panik. Hal itu bisa berdampak pada perekonomian dalam negeri.
"Karena penjualan itu terjadi (secara) masif, maka obligasi di (negara) kita kan berkurang. Nah, ketika turun, ada pihak-pihak yang memanfaatkan penurunan tersebut untuk mengambil posisi," kata Reza.
(Dani Jumadil Akhir)