MALANG - Kenaikan harga minyak goreng membuat pedagang hingga pemilik usaha di Kota Malang menjerit. Hal ini dikarenakan dengan kenaikan harga minyak goreng menjadikan mereka harus mengikatkan ikat pinggang.
Pemilik usaha keripik tempe di Malang bernama Rohani Trio Andi Cahyono menuturkan, pihaknya terpaksa mengurangi ukuran keripik tempe produksinya karena kenaikan harga minyak goreng. Ia memilih tidak menaikkan harga kripik tempe lantaran takut kehilangan konsumen setianya.
"Pada saat ini posisi minyak goreng naik, kami memberikan istilah tidak naik lagi tapi ganti harga. Maka, kami selaku pengusaha, mengurangi size (ukuran) dari keripik tempe tersebut. Harganya tetap. Akan size kami turunkan sedikit, untuk istilahnya bisa menutupi di ongkos produksi lain," ucap Rohani Trio Andi, ditemui MNC Portal di tempat usahanya di Kota Malang pada Rabu (10/11/2021).
Baca Juga: Harga Minyak Goreng Naik, Penjual Gorengan: Untungnya Tipis
Menurutnya, kenaikan harga minyak goreng kali ini dirasa cukup memukul usahanya setelah mulai perlahan bangkit, imbas penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kota Malang beberapa bulan lalu.
"Ya pastinya berat, karena minyak salah satu dari bahan pokok di keripik tempe. Mungkin tidak hanya di kami di usaha keripik. Mungkin di teman-teman produsen lain berbahan minyak, pasti akan berdampak," ungkap dia.
Dirinya menambahkan, omzet penjualan keripik tempenya mulai perlahan - lahan normal, layaknya sebelum penerapan PPKM darurat dan PPKM level 4 diberlakukan.
Baca Juga: Brent Dijual USD84,7/Barel, Harga Minyak Sudah Naik hingga 60%
"Alhamdulillah penjualan sebulan terakhir, omzet meningkat, dengan adanya penurunan level PPKM ini. Alhamdulillah omzet semakin normal daripada awal awal PPKM dulu. Akan tetapi karena harga minyak seperti ini," jelasnya.