"Peternak itu menjanjikan bahwa setiap bulan madu akan dipanen dan bakal mendapat keuntungan dengan sistem bagi hasil. Tetapi setelah satu bulan pertama dirinya mendapati bahwa kotak lebah miliknya kosong dan hanya berisi sedikit lebah. Kondisi tersebut terjadi hingga lima bulan," ucapnya.
Saat ditelusuri, ternyata diketahui sebenarnya kotak-kotak lebih miliknya itu sudah beberapa kali panen.
BACA JUGA:Kurangi Pengangguran, Masyarakat Diajarkan Bisnis Lele di Rumah
Tetapi hasil panen beberapa kali tidak pernah diberikan kepadanya, melainkan digunakan sendiri oleh oknum peternak lebah tersebut.
"Awalnya sempat down juga. Tetapi kemudian saya bertemu peternak lain di Pasuruan yang membantu saya bangkit hingga bisa berkembang sebagai peternak lebah madu," jelasnya.
Seiring waktu akhirnya usahanya mulai menunjukkan hasil, dirinya mengakui sempat kesulitan membagi konsentrasi antara meneruskan ternak lebah madu dengan memasarkannya.
Hal ini membuatnya memilih untuk fokus pada pemasaran dengan mengusung brand Sarang Maduku.
"Sekitar tahun 2020 saya memutuskan untuk fokus ke pemasaran madu saja. Kalau yang kami pasarkan ini masih murni dan tidak dicampur dengan bahan lain," jelas lulusan D3 Pemasaran Universitas Diponegoro itu.
Untuk menyuplai kebutuhan madunya, dia lantas bermitra dengan beberapa peternak lebah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Total hingga kini dirinya sudah memiliki tujuh mitra peternak lebah di dua provinsi itu.
Kini dengan tujuh mitranya itu, usaha pengolahan madu miliknya kian berkembang.