Corporate Secretary TBLA, Hardy Phan mengatakan, sekitar 50% dari anggaran capex dialokasikan untuk mendanai agenda maintenance, sedang sekitar 50% lainnya untuk ekspansi.
“Sumber pendanaannya biasanya kami kombinasi, 65% dari perbankan, 35% dari (kas) internal, tapi (komposisinya) tergantung proyeknya yang mana,” ujarnya.
Emiten perkebunan sawit ini menyampaikan rencana ekspansi pabrik Refined Glycerine berkapasitas 120 ton per hari dan sudah rampung. Pabrik yang berlokasi di Way Lunik-Lampung ini sudah beroperasi kurang lebih 1 minggu saat tulisan ini dibuat.
Agenda ekspansi lainnya, TBLA juga membangun Pabrik Re-Esterification PFAD di Way Lunik, Lampung. Pabrik berkapasitas berkapasitas 100 ton per hari itu saat ini sedang dalam tahap commissioning.
Harapan TBLA, pabrik ini bisa mulai beroperasi pada awal bulan depan. Dengan adanya pabrik ini, nantinya TBLA bisa mencampurkan PFAD hasil pabrik dengan bahan baku biodiesel. PFAD yang dihasilkan ini bisa menggantikan RBDPO yang harganya lebih mahal.
Berikutnya, TBLA juga mengagendakan penanaman kebun tebu di Lampung hingga 15.000 hektare.
(Taufik Fajar)