"Beban utang luar negeri sektor swasta juga dapat meningkat, karena pendapatan sebagian besar diperoleh dalam bentuk rupiah sementara bunga dan cicilan pokok berbentuk valas," ungkapnya.
Di lingkaran swasta, Bhima menuturkan perusahaan dapat melakukan sejumlah langkah untuk memitigasi pelemahan kurs, salah satunya efisiensi operasional.
Namun, tidak semua perusahaan swasta yang punya utang luar negeri dapat melakukan hedging alias lindung nilai.
Indonesia Harus Apa?
Pelemahan kurs rupiah dapat mendorong percepatan kenaikan suku bunga acuan. Menurut Bhima, BI perlu segera menaikkan 25-50 bps suku bunga untuk menahan aliran modal keluar.
Namun, ada ancaman tersendiri apabila suku bunga dinaikkan. Hal yang menjadi dilema adalah saat suku bunga naik, maka cicilan KPR dan kendaraan bermotor bisa lebih mahal.
"Menaikkan suku bunga acuan dapat berimbas kepada pelaku usaha korporasi, UMKM maupun konsumen," bebernya.
Bhima menyatakan bahwa Indonesia perlu mempersiapkan diri dalam skenario yang terburuk. Menurutnya, saat inflasi naik tapi konsumen tidak siap, maka dapat membuat daya beli masyarakat terkontraksi.
Selanjutnya, pendapatan dari ekspor komoditas yang selama ini menopang surplus perdagangan bisa berbalik arah (harga CPO dan batubara mulai menurun sebulan terakhir).
Defisit APBN melebar sehingga beban untuk pembayaran bunga utang terutama SBN meningkat tajam.
"Masyarakat harus segera lakukan ikat pinggang, atur dana darurat, dan alihkan investasi ke aset yang aman baik dollar maupun emas. Kita tidak tahu secara pasti, apakah 2 tahun kedepan resesi akan berakhir karena seluruh negara sedang mempersiapkan cadangan pangan secara agresif," tandasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)