Sementara itu, perlambatan ekonomi China juga terjadi karena kebijakan zero covid policy dan volatilitas di sektor perumahan.
IMF menghitung bahwa sekitar sepertiga dari ekonomi dunia akan mengalami kontraksi setidaknya dua kuartal berturut-turut tahun ini dan tahun depan.
"Perlambatan pertumbuhan di negara-negara maju, kenaikan suku bunga, risiko iklim dan berlanjutnya harga pangan dan energi yang tinggi sangat memukul negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang bisa saja akan terkena imbasnya," tukas Ibrahim.
Di samping itu, dia memprediksi, untuk perdagangan besok, Rabu (12/10/2022) mata uang rupiah dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp15.350 - Rp15.400.
(Zuhirna Wulan Dilla)