JAKARTA - Indonesia bisa jadi episentrum pertumbuhan di tengah ancaman resesi global 2023 dan lesunya investasi perusahaan teknologi digital. Prediksi resesi di tahun depan dinilai tidak akan membuat Indonesia dan kawasan Asean kehilangan momentum pertumbuhan.
Sebab, kondisi tremor itu merupakan konsekuensi wajar dari situasi global hari ini, tetapi katalis pertumbuhan masih cukup banyak untuk Indonesia dan Asean.
"Saat ini bubble startup sebagai fenomena wajar agar aliran investasi seiring sejalan dengan pengembangan pasar secara riil," kata Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (4/11/2022).
BACA JUGA:Ancaman Resesi 2023, Apa Strategi Bank Digital?
John menambahkan fenomena ini akan menguji sekian banyak perusahaan teknologi digital yang relevan bagi pasar, serta memvalidasi valuasi. Hal tersebut akan memberikan imbas positif bagi berbagai inovasi dan solusi bagi masyarakat menyongsong era digital lebih lanjut ke depan.
Di sisi lain, dengan ancaman resesi, dia menilai kondisi Indonesia dan kawasan Asean masih memiliki kekuatan guna meredam dampak terburuknya. Sewaktu perdagangan internasioal lesu akibat kontraksi perekonomian yang terjadi di negara-negara besar, Indonesia dan negara kawasan Asean masih bisa mengandalkan pasar domestik maupun regional.
“Persoalan utama memang masih menghantui, seperti terganggunya rantai pasok global, berimbas kepada aliran bahan baku maupun sektor energi. Namun dari perkiraan berbagai lembaga global, Indonesia dan kawasan Asean masih jauh lebih baik,” katanya.
Dia meyakini Asean ke depan akan jauh lebih berkembang. Saat ini, Asean merupakan kawasan ekonomi terpadat ketiga di dunia, dengan tingkat pertumbuhan nomor tiga setelah China dan India.
Sejalan dengan itu, berdasarkan riset IMF bersama Standard Chartered pada 2030, Indonesia akan menjadi negara peringkat empat PDB terbesar di dunia yang mencapai USD10,1 triliun. Indonesia membuntuti posisi China, India, dan Amerika Serikat.
Proyeksi tersebut sangat mungkin terealisasi mengingat jumlah populasi produktif yang cukup besar. Pada 2030 saja, populasi usia kerja di Asean bakal meningkat 40 juta orang dari saat ini, di saat negara lainnya mengalami penyusutan.
“Dan Asean, Indonesia mengambil porsi sekitar setengahnya,” kata John.
Faktor yang sama akan membuat penetrasi digital di Indonesia akan semakin masif ke depan. Mengacu riset Google dan Bain, pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia mengalami lonjakan tajam sejak dua tahun lalu, bahkan pada 2030 ekonomi digital di Indonesia diprediksi akan mencapai nilai sebesar USD330 miliar, meningkat lima kali lipat dari 2021 yang sebesar USD70 miliar.
John menilai prediksi itu tidak mengejutkan. Hal ini diukur dari sudut valuasi perusahaan teknologi digital saja terjadi peningkatan 1.000 kali lipat dalam 8 tahun terakhir.
“Pada 2014, value dari seluruh perusahaan teknologi di Indonesia hanya berkisar Rp1 triliun. Saat ini dengan semakin majunya perusahaan tersebut, nilainya bisa mencapai Rp1.000 triliun,” ujarnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)