JAKARTA – Guru Besar Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Rhenald Kasali menyebut bahwa Environment, Social dan Governance (ESG) menjadi salah satu tuntutan zaman saat ini. Hal ini menjadi penting sekali agar semua masyarakat terutama anak muda meningkatkan pemahaman kompetensi tentang ESG.
Sebab kini perusahaan transformasi semuanya mengarah kepada ESG. Hal tersebut dia sampaikan melalui video di kanal YouTubenya yang bertajuk ‘’Rating ESG Penting?’’ yang diakses Okezone pada Rabu, (14/6/2023).
"Saya minta para CEO tidak hanya membentuk kompetensi pada orang-orang yang melakukan strategic planning saja tapi kepada seluruh elemen Corporate , karena produk tersebut harus berbasis corporate culture berbasiskan ESG fasilitas, limbah, komunikasi. Environment, Social & Goverment ini menjadi sebuah gelombang perubahan yang sangat besar karena bumi semakin padat dan semakin panas tentu saja ini membuat sebuah perusahaan memerlukan cara-cara baru," katanya.
Prof Rhenald juga menyebut banyak sekali manfaat dan hal positif yang akan timbul jika bisa menggunakan ESG dengan baik.
"Kasus yang semakin bertebaran. Kalau kita gunakan dengan baik ESG bisa menjadi benih-benih kebaikan dan tentu saja sebaliknya tidak digunakan dengan baik menjadi benih-benih keributan, Kalau hal-hal positifnya sudah jelas," ujarnya.
Adapun hal positif jika menggunakan ESG sekitar 10% tersebut, di antaranya mencegah terjadinya kerusakan, perusahaan lebih wise, profit yang didapatkan perusahaan akan lebih baik hingga bisa membangun sebuah Woke Culture.
"Karena 10% dengan melakukan penerapan ESG dengan 10% tanpa ESG. Itu sudah diperhabis dengan kerusakan banyak. Tapi kalau 10% dengan ESG, itu sudah menimbulkan dampak positif yang besar pada masyarakat dan ini akan membangun apa yang disebut sebagai Woke Culture. Ini artinya budaya berkeadilan yang bisa menjadi alat transformasi positif," ujarnya.
Sebaliknya, jika digunakan secara sembarangan tanpa tahu pemahaman yang jelas tentang rating pun, efek negatif dari ESG ini bisa jadi alat pemerasan hingga reputasi bisa terganggu karena lembaga ratingnya merubah.