Selain belajar ilmu agama, para santri di Pondok Pesantren Lirboyo juga diajarkan bagaimana cara berwirausaha. (Foto: Sabang Prayogi)
Lebih lanjut, Kyai Shobih mengungkapkan dirinya sudah bergabung menjadi Agen BRILink sejak tujuh tahun lalu. Dikatakannya, ide ini muncul dari santri senior, Ahmad Taufiqurahman yang juga menjadi pengelola dalam menjalankan usaha BRILink di Toko Assalam.
Taufiq, sapaan akrabnya, mengatakan jika ingin mengakses layanan perbankan para santri harus menempuh perjalanan yang cukup jauh. Niat awalnya sederhana, yaitu hanya ingin membantu para santri dalam melakukan transaksi perbankan.
“Saya melihat adanya peluang yang sangat bagus di lingkungan pesantren ini. Misalnya untuk keperluan santri menerima transfer dari orang tua. Sedangkan ATM dari pondok itu jaraknya 500 meter,” ujarnya.
Dalam sehari, kata taufiq, gerai BRILink Toko Assalam mampu melayani 15 ribu sampai 16 ribu kali transaksi. Bahkan sejak pandemi Covid-19 melanda, Toko Assalam pernah menyentuh 23 ribu kali transaksi dengan perputaran uang kurang lebih 300 juta.